20 Tahun Lebih : Jalan Alur Teh Rusak Parah

0
102

Chapnews.id – Aceh Timur, Kondisi badan jalan Alur Teh yang menghubungkan delapan desa di Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur, rusak parah, sehingga membuat pengendera motor kewalahan saat melintas, di Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur, Minggu (22/9).

Fasilitas jalan yang menghubungkan delapan desa dalam kecamatan itu adalah Alur Teh, Paya Rambung, Alur Gadeng Sa, Paya Bili Dua, Paya Tampah, Alur Nyamuk, Blang Tualang dan Alur Twi.

Pantauan di lapangan, Minggu (22/9) terlihat sepanjang 8 KM badan jalan tersebut berlobang,bahkan aspalnya pun sudah tidak ada lagi. Padahal kawasan jalan itu padat lalulalang pengendera motor roda dua dan empat yang hendak menuju ke Kota Langsa.

Dari keterangan sejumlah masyarakat yang melintas di jalan tersebut, pengaspalan jalan pertama kali sejak masa Presiden Suharto sekitar 20 tahun lebih hingha kini belum ada sama sekali perhatian dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur melalui instansi terkait untuk dilakukan perbaikan.

Selain itu, masyarakat ditujuh desa disana sering memanfaatkan jalan tersebut menuju ke Kota Langsa,karena jaraknya lebih dekat menuju ke pasar untuk berbelanja kebutuhan. Ironisnya lagi, bila hujan turun badan jalan yang berlobang tidak kelihatan karena tergenang air, sehingga terperosok dan sudah pernah memakan korban.

Sunarto (38) warga Desa Paya Tampah, saat melintas kepada Analisa, mengakui, kondisi badan jalan ini sudah 20 tahun lebih rusak parah,bahkan tidak ada sama sekali perhatian dari Pemkab Aceh Timur melalui instansi. Apalagi, sejak pemekaran kabupaten induk ini antara Aceh Timur, Kota Langsa dan Aceh Tamiang.

Diakuinya, pascapemekaran itu kawasan desa yang berada di wilayah Kecamatan Birem Bayeun, kurang perhatian dari pemerintah setempat.Padahal fasilitas infrastruktur seperti jalan dan jembatan sangat dibutuhkan sekali untuk kelancaran aktifitas sehari-hari.

Apalagi, tujuh desa yang berada di kecamatan ini mayoritasnya sebagai petani kebun. Adapun hasil komoditi yang dihasilkan seperti sawit,karet, pinang dan coklat.”Ya, dengan adanya fasilitas umum jalan dan jembatan yang layak juga mempengaruhi biaya penjualan komoditi kepada agen,”ujarnya.

Dampak dari rusaknya fasilitas infrastruktur mempengaruhi penjualan komoditi tidak sesuai pasaran, karena para agen berdalih kondisi jalan yang rusak dan sering mengalami kerusakan kenderaan motor,sehingga biaya pengeluaran besar.

Hal senada juga dikatakan, Rabono (38) warga Desa Paya Bili Dua, rusak badan jalan tersebut sangat kewalahan melintasinya terutama pada malam yang suasananya gelap dan ketika hujan turun banyak lobang yang tergenang air membuat pengendara motor terperosok, sehingha pelak ban baling.

“Kami sangat dambakan dan harapkan kepada pemerintah daerah setempat melalui instansi terkait agar dapat segera melakukan perbaikan jalan yang sudah 20 tahun lebih lamanya tidak pernah diperbaiki,”ujarnya seraya mengakui jalan iti dibangun waktu masih masa Presiden Suharto.

Dia menambahkan, jalan ini juga dimanfaatkan oleh truk-truk pengangkut sawit dari beberapa perusahaan perkebunan yang setiap hari lalulalang.

Sementara Kabid Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Aceh Timur, Zuliansyah, ST, saat dikonfirmasi chapnews, Senin (23/9), mengakui, perbaikan jalan tersebut pada tahun ini belum ada anggaran dan pada tahun 2020 pihaknya belum bisa memastikan apakah ada anggaran untuk perbaikannya.

“Kita belum ada anggaran untuk perbaikan jalan disana tahun ini.Untuk tahun depan kita tidak tahu,apalah ada anggaran atau tidak,karena masih banyak jalan di Aceh Timur yang rusak dan diperbaiki dulu yang dianggap sangat dibutuhkan,”ujarnya.(CN02)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here