Masyarakat Aceh di Mohon” Bek Tungang”

0
276

Chapnews.id, Banda Aceh – Sebagai mana dirilis website resmi (acehprov.go.id) menyebutkan bahwa per tanggal 19 April 2020 sudah ditemukan 7 kasus terkonfirmasi positif COVID 19, dengan total kasus kematian sebanyak 1 orang dan 1 orang masih dirawat di Aceh.

Demikian ungkap, Ketua Gerakan Bantu Tim Medis Aceh (GBTMA),
dr. Nurkhalis, SpJp, FIHA, FAsC, kepada wartawan via pers rilisnya, Senin, ( 20/04/2020).

Menurutnya, adapun total Orang Dalam Pemantauan (ODP) saat ini sebanyak 1550 orang dan total Pasien Dalam Pemantauan (PDP) sebanyak 60 orang. Rerata dari kasus COVID19 yang positif ternyata memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri ataupun area lokal transmisi di Indonesia.

Sehingga secara umum sumber kasus COVID19 Aceh saat ini masih sebatas imported case, namun demikian pihak pemerintah saat ini terus berupaya melakukan penjajakan atau tracing pada semua kasus COVID19 yang muncul, sehingga nantinya dapat diputuskan apakah Aceh sudah berstatus area lokal tranmisi atau belum, ujarnya.

Ikut di jelaskan, jika dibandingkan dengan Jakarta sebagai Wuhan-nya Indonesia, terdapat 2902 kasus positif COVID-19 dan angka kematian yang mencapai hampir 1000 orang, memang Aceh bukanlah apa-apa.

“Bahkan jika dibandingkan dengan provinsi tetangga yaitu Sumatera Utara yang sudah menjadi daerah lokal, Aceh tergolong daerah dengan kasus positif yang masih rendah” papar dr. Nurkhalis, SpJp, FIHA, FAsCC.

Alangkah baiknya kita jangan angkuh, angka yang masih rendah ini sebaiknya menjadi cemeti bagi para pemangku kebijakan untuk bekerja lebih giat lagi, menelusuri setiap sisi dan sudut dari kota ini.

Selanjutnya, evaluasi ulang kebijakan, kepatuhan masyarakat, kesiagaan laboratorium, sumber daya manusia dan kesiagaan tim medis sebagai bagian dari langkah identifikasi penyebab rendahnya angka deteksi COVID19 sehingga fenomena gunung es COVID19 hanya sebatas impian belaka.

Ditambahkannya , Pemerintah Aceh sejak awal sudah menerapkan gerakan Work From Home (WFH) agar masyarakat tetap di rumah mulai dari bekerja, belajar dan beribadah kecuali terdapat suatu hal yang mendesak dan harus dikerjakan di lingkungan luar.

“Saat awal ditemukannya kasus positif corona pertama di Aceh, warga Banda Aceh cukup patuh bahkan sampai memberlakukan lockdown lokal di masing-masing desa, membentuk Gugus Tugas COVID19, memberlakukan jam malam seperti suasana konflik beberapa tahun yang lalu” ungkapnya.

Namun berdasarkan evaluasi Pemerintah Aceh ternyata pemberlakuan jam malam ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat beranggapan kebijakan ini melumpuhkan perekonomian dan muncul masalah baru bagi kalangan masyarakat menengah ke bawah dengan penghasilan harian.

Pemberlakuan jam malam dianggap tidak tepat hingga pada akhirnya kebijakan ini dihentikan. Setelahnya muncul fenomena baru layaknya “hewan lepas dari kandang” dimana masyarakat beramai-ramai memenuhi kedai kopi seperti tidak ada lagi virus corona di muka bumi.

“Ditambah dengan keyakinan masyarakat bahwa Aceh sudah aman dari Corona” ujarnya.

Fenomena ini terus berlanjut seperti yang kita lihat saat ini, warung kopi masih terus buka dan masyarakat Aceh saat ini masih duduk atau sekedar bercengkerama di warung kopi bahkan tidak hanya pada malam hari.

Ramainya masyarakat didominasi kalangan anak muda di warung kopi dapat dipastikan penularan penyakit ini semakin cepat dan luas. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa sebaiknya harus sangat hati-hati pada kalangan anak muda ini, karena pada golongan usia mereka bila terinfeksi COVID19 umumnya tidak memiliki gejala atau disebut dengan carrier COVID 19.

dr. Nurkhalis, SpJp, FIHA, FAsCC mengatakan Carrier merupakan orang yang terinfeksi namun tidak memiliki gejala sehingga sangat berpotensi menularkan ke masyarakat luas.

Baru-baru ini, Dinas Kesehatan Aceh beserta Satpol PP, TNI dan POLRI melakukan razia warung kopi yang ada di Banda Aceh seperti Mahdan Kopi, Dhapu Kupi, Zakir Kupi serta Ponten Cafe untuk langsung dilakukan Rapid Test di tempat.

Hal ini merupakan langkah yang cukup baik dan diharapkan dapat dilakukan di banyak tempat keramaian yang ada di Aceh, sehingga masyarakat lebih berhati-hati dan menjalankan social distancing.

“Tidak hanya warung kopi, tempat lain yang juga masih banyak dipadati masyarakat Aceh salah satunya adalah masjid” sebutnya.

Masyarakat Aceh memang dianggap religius dan kerap menyikapi segala hal dengan pandangan keagamaan. Bahkan dengan adanya pandemi COVID 19 ini, tidak semua masjid tutup di Aceh. Mereka tetap melaksanakan shalat berjamaah seperti biasa. Banyaknya seruan yang menanyakan: “Lebih takut Corona atau Allah?” menjadikan masyarakat Aceh tidak berhati-hati terhadap kemungkinan terburuk dari pandemi ini.

Jika kita melihat negara-negara islam lainnya, contohnya Mesir dan Turki, banyak sekali ulama yang menyerukan kepada masyarakat disana untuk beribadah di rumah. Hal tersebut dirumuskan berdasarkan kejadian di zaman Rasulullah SAW ketika musim dingin menerpa wilayah Arab, kemudian masyarakat disarankan untuk beribadah di rumah saja. Meskipun masih banyak terdapat kontroversi antara perhimpunan ulama baik ditingkat nasional ataupun daerah terkait kebijakan sholat di masjid, alangkah baiknya langkah yang ditempuh adalah menyinkronisasi kebijakan ulama setempat dengan pemerintah, sehingga tidak akan timbul kebingungan dalam masyarakat tentang bagaimana aturan sholat jamah yang paling baik dan yang harus dilakukan pada saat pandemi ini.

Tujuannya hanya satu yaitu kita semua melakukan tindakan yang sama, mulai dari pemerintah, ulama dan masyarkat.

Karenanya aturan yang tegas, sinkronisasi kebijakan antara para pemangku pemerintahan yang sejalan dengan kebijakan ulama yang menjadi bagian dari kearifan lokal dan sangat dihargai dalam masyarakat Aceh merupakan hal yang paling penting dalam menyikapi fenomena-fenomena yang muncul sebagaimana disebutkan diatas.

Penelitian terbaru yang dilakukan di Universitas Harvard menyebutkan bahwa COVID19 akan berakhir di tahun 2022 karena diperkirakan sistem imun tubuh manusia akan membentuk kekebalan terhadap virus ini selama 2 hingga 5 tahun ke depan dan di tahun itu juga kita semua sudah seragam melangkah pada titik poin yang sama dan melakukan hal yang serupa dalam mencegah penularan COVID19 ini.

Sehingga patuhlah sedini mungkin, dan jangan abai terhadap anjuran pemerintah. Dapat dibayangkan, jika masyarakat Aceh konsisten dengan sikapnya yang “tungang”, apa yang akan jadi di Aceh ke depannya?

Akankah angka kasus COVID 19 ini akan berkurang? Atau justru semakin meningkat? Mau sampai kapan kita social distancing? Mau sampai kapan kita bekerja dari rumah, belajar online, hidup terusan di dunia maya? Mau sampai kapan COVID19 menjadi penghalang makmurnya masjid kita?

Semua keputusan dan jawaban ada ditangan kita, karena kita adalah pelaku penularan dan korban COVID19 saat ini. Ayo di rumah aja, ayo jaga jarak, ayo bersama kita putuskan rantai penularan COVID 19. imbuhnya.

Terakhir ingin kita sampaikan, tulisan ini  kita rangkum dari tulisan Dr. dr. Budi Yanti, Sp.P dr. Novita Andayani, Sp.P (K) Dosen Pulmonologi Dan Kedokteran Respirasi, FK UNSYIAH, RSUZA, Banda Aceh , bekerjsama dengan dengan Gerakan Bantu Tim Medis Aceh. (fitrie)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here