KontraS Aceh:  Dana Refocusing BRA untuk Touring Moge, Sangat Tidak Sensitif dan Memalukan

0
126

Chapnews.id, Banda Aceh – Komisi untuk kasus orang hilang dan korban tindak kekerasan(kontraS) menilai Dana refocusing Badan reintegrasi Aceh (BRA) untuk tour hari damai Aceh ke – 15 sangat tidak sensitif dan memalukan.

Demikian disampaikan Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye kontraS Aceh Azharul Husna kepada Chapnews melalui pers rilisnya, Rabu (12/08/2020).

“Anggaran sebanyak itu, seharusnya tidak di tempatkan untuk kegiatan- kegiatan yang mubazir dan sangat disayangkan touring itu dibiayai dengan anggaran senilai Rp 305.663.796 juta yang bersumber dari dana refocusing APBA. Anggaran refocusing seharusnya digunakan untuk menangani pandemi Covid-19 di Aceh, bukan malah untuk jalan-jalan dan dihambur-hamburkan” ujar Husna.

Menurutnya , angka pandemi di Aceh yang kian meningkat, di tengah kondisi fasilitas kesehatan yang semakin buruk bisa dibayangkan bila anggarannya itu malah digunakan untuk pergi touring .

Apalagi, tambahnya, Pemerintah seharusnya lebih fokus pada penanganan Covid-19 yang makin tinggi di Aceh. Tak hanya itu, pemerintah harus melarang kegiatan pengumpulan orang dalam jumlah lebih dari 10 orang. “Aturan ini harusnya dilaksanakan mulai dari pihak Pemerintah sendiri,” imbuh Husna.

KontraS juga meminta Badan Reintgerasi Aceh (BRA) untuk menolak tegas rencana kegiatan touring itu, karena dinilai tidak punya relevansi apapun dengan perdamaian Aceh yang masih menyisahkan banyak persoalan hingga saat ini.

” Apalagi setelah diketahui rombongan tersebut hanya jalan-jalan dan berswafoto saja di tiap persinggahan mereka nantinya. Touring swafoto ini juga bisa memberikan pembelajaran tidak bagus bagi masyarakat kita di tengah situasi Covid 19, itu memalukan,” ujarnya.

Husna menyebut touring tersebut sama sekali tidak sensitif terhadap kondisi psikologis masyarakat hari ini.

“Sama sekali tidak bermanfaat, di sisi lain, perdamaian Aceh perlu menjadi refleksi kita bersama terkait banyak persoalan yang belum tertangani paska konflik silam, kegiatan jalan-jalan itu sangat tidak sensitif terhadap apa yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat korban pelanggaran HAM di Aceh,” kata Husna.

Selain itu, dirinya mengaku miris dengan perilaku pemerintah yang menghambur-hamburkan anggaran hanya untuk kepentingan kelompok tertentu saja.

“Komunitas moge ini kan lazimnya diisi oleh orang-orang kelas atas. Harusnya momentum hari damai ini bisa mereka manfaatkan dengan melakukan kegiatan sosial yang bersumber dari anggaran komunitas atau pribadi bukan malah melakukan kegiatan dengan menggunakan APBA,” ketusnya.

Kajian KontraS Aceh, selama 15 tahun perdamaian Aceh, masih banyak persoalan yang belum tuntas. Pemenuhan hak korban konflik, pemulihan fisik dan psikis korban serta pengungkapan kebenaran dan rekonsiliasi pasca konflik yang masih harus menempuh jalan panjang.

“BRA harusnya bisa melihat hal ini dan bukan malah meloloskan kegiatan yang tidak ada manfaatnya untuk korban konflik, merekalah yang paling terdampak dan membutuhkan perhatian, bukan hanya acara-acara simbolis yang digelar setiap tahun oleh para elit pemerintahan,” pungkasnya.(fitrie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here