Kisah Seorang Guru SD Datangi Muridnya

0
120

Chapnews.id, Aceh Tamiang – Seorang guru sekolah dasar (SD) di Kabupaten Aceh Tamiang, Rusnani S.Pd berinisiatif mendatangi muridnya yang terkendala ponsel untuk belajar online dari rumah saat pandemi covid 19.

Kehadiran Nanie Idrus, demikian biasa Ia disapa, di rumah murid untuk belajar tatap muka tetap mengutamakan protokol kesehatan.

Nanie Idrus merupakan guru SD Sungai Kuruk ll Kecamatan Seruway. Dan memasuki tahun ajaran baru 13 juli 2020 sekolah tempatnya mengabdi meliburkan aktivitas belajar tatap muka di kelas.

Dan proses pembelajaran pun dialihkan menggunakan sistem daring atau online. Dari total 25 muridnya, hanya 7 orang yang memiliki hp android, sehingga pengajaran daring dirasa tidak efektif.

Selanjutnya, Nanie berinisiatif sendiri untuk melakukan pengajaran dari rumah ke rumah secara bergantian. Setiap 5 murid yang rumahnya berdekatan akan mendapatkan jadwal yang sama.

“Awalnya dengan sekolah diliburkan, kemudian dari sekolah berusaha untuk melakukan anjuran dari pemerintah dengan daring. Tapi dengan sistem online ini ternyata juga banyak dari orang tua murid yang handphonenya belum Android sehingga tidak bisa secara daring,” ujar Nanie saat ditemui disela-sela mengajar kelompok siswa di Desa Sungai Kuruk II kecamatan Seruway, Selasa (25/08/2020).

Seperti pagi ini, Nanie berangkat dari rumahnya di Desa Alur manis, Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang dengan Jarak dari rumah ke sekolah kurang lebih 15 km.

Adapun tujuannya mendatangi 5 muridnya yakni, Fauzi, Nuvus, Albiansah, Rasyid dan Istyqomah Kelimanya belajar berkelompok di rumah Istyqomah.

“Setiap senin wali murid mengambil tugas mandiri ke sekolah dan Selasa sampai sabtu saya berinisiatif mendatangi rumah- rumah murid untuk belajar bersama” ujar Nanie.

Sementara belajar daring tetap ada bagi murid punya android guna melaporkan melapor tugas yang mungkin belum di mengerti.

Menurutnya , dengan diterapkannya belajar daring anak – anak juga kurang memahami, banyak sekali yang kurang memahami materi yang disampaikan oleh guru-guru.

“Dengan kedatangan guru, tanggapan orang tua sangat senang bisa menjelaskan materi yang kurang paham dan anak senang bisa bertemu dengan guru. saat kesulitan anak bisa langsung bertanya,” jelas Nanie

Dirinya mendatangi para murid dengan inisiatif sendiri agar proses pembelajaran tetap berlangsung dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Ini bukan perintah sekolah. Ini inisiatif sendiri karena saya sebagai pendamping anak, kalau secara daring terus sepertinya kurang maksimal. Dalam arti bahwa anak hanya mengerjakan tugas terus, tapi kadang dari tugas itu belum memahami,” ujarnya.

Ia pun tidak setiap hari mendatangi siswa untuk belajar bersama. Namun menentukan kelompok mana yang akan didatangi, kemudian dalam sehari bisa dua kelompok sekaligus didatangi mulai pagi. Setelah selesai, kemudian bergantian menuju kelompok lainnya.

“Tidak setiap siswa setiap hari, tetapi persiapan tugasnya yang harus saya sampaikan dihari senin. Kemudian dari selasa – sabtu saya keliling ke masing masing kelompok. Jamnya diatur, satu kelompok mulai pagi mulai jam 08.00 WIB, sebelumnya persiapan. Yang terpenting adalah tetap dengan protokol kesehatan,” kata Nanie

“Anak-anak tetap pakai masker, cuci tangan dan tetap menjaga jarak. Kemudian rata-rata satu kelompok menggunakan waktu untuk 2 sampai 3 jam. Kemudian berganti ke kelompok lain,” tutur Nanie.

Nanie pun mengaku menemui kendala terutama saat musim hujan lalu. Kemudian, saat berupaya menghubungi anaknya tidak bisa, dia terpaksa harus mendatangi dan mengumpulkan di satu tempat.

“Kendala tentu ada. Kadang-kadang pas kemarin musim hujan, kehujanan. Tapi bagaimanapun kendala, tapi harus saya tempuh. Kendala lain, kalau anak-anak tidak kontak langsung, jadi harus mengumpulkan,” ujarnya.

Salah satu orang tua siswa, mengaku senang sekali karena salah satu gurunya bisa datang. Untuk itu, anak-anak bisa belajar langsung .

Menyinggung soal belajar online, kata dia, kesulitannya adalah soal sinyal. Untuk itu, kedatangan guru di rumahnya sangat membantu proses belajar mengajar.

Sementara itu, salah satu murid, Nuvus mengaku senang didatangi gurunya. Ia belajar di rumah selama menjadi siswa baru di SDN Sungai Kuruk II

“Senang. Tadi belajar membaca di rumah. Belajar pakai HP susah karena tidak punya HP,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Rasyid, Ia juga merasa senang didatangi gurunya dan keinginannya untuk bersekolah kembali.
“Senang. Penginnya sekolah lagi kayak dulu,” tuturnya.

Bahkan suatu pagi saat mengajar dirumah salah satu murid, tiba-tiba Bupati Aceh Tamiang dan Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tamiang datang dan memberikan saya hadiah. Imbuhnya. (fitrie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here