Balai Syura Minta Pelaku Dihukum Seberat- Beratnya

0
93

Chapnews.id, Banda Aceh – Presidium Balai Syura Ureng Inong Aceh meminta penegak hukum untuk memberi hukuman seberat- beratnya pada pelaku pemerkosaan dan pembunuhan di Gampong Alue Gadeng Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur.

‘Sudah sepantasnya pelaku di hukum seberat- beratnya sehingga bisa menimbulkan efek jera  baginya dan buat yang lain,” Demikian disampaikan oleh Presidium Balai Syura Ureng Inong Aceh, Suraiya Kamaruzzaman kepada Chapnews, Selasa(13/10/2020).

Menurutnya kasus yang terjadi tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan seksual di Aceh sudah menjadi persoalan yang sangat serius, bahkan menjadi situasi darurat kekerasan seksual .

Dijelaskan Soraya , Mengacu pada beragam kasus yang terjadi, salah satu faktor penyebab kasus perkosaan dan kekerasan seksual lainnya terus terjadi adalah karena  Negara gagal memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak dari predator kekerasan seksual.

” Penegakan hukum selama ini , sama sekali tidak memberikan efek jera kepada pelaku atau calon pelaku” ujar aktivis perempuan ini.

Penerapan Qanun Jinayah yang masih memiliki banyak kelemahan, terutama karena rendahnya hukuman bagi pelaku dan sulit/rumitnya pembuktian  serta tidak adanya  keadilan bagi korban dimana hak restitusi, kewajiban pemulihan korban, baik secara psikologis maupun secara sosial sama sekali tidak diatur di dalamnya, ungkap Soraya .

Ditambahkan oleh Soraya , Untuk pelaku kasus pemerkosaan dalam Qanun Jinayah dihukum cambuk paling sedikit 125 kali, paling banyak 175 kali, atau denda paling sedikit 1.250 gram emas murni, paling banyak 1.750 gram emas murni atau penjara paling singkat 125 bulan, paling lama 175 bulan.

“Rata-rata kasus yang diputuskan adalah hukum cambuk, dimana setelah proses cambuk berjalan, korban bisa kembali berkeliaran dan berpotensi bertemu korban kembali yang masih menghadapi trauma atau proses pemulihan” tegas Soraya Kamaruzzaman.

Semoga peristiwa ini semakin membuka mata anggota DPR RI untuk segera mensahkan RUU Pencegahan Kekerasan Seksual. Tidak perlu menunggu keluarganya menjadi korban terlebih dahulu untuk peduli, imbuh Suraiya Kamaruzzaman

Sementara itu , direktur Flower aceh , Riswati menyebutkan, Pademic covid 19, dimana situasi kehidupan masyarakat semakin  sulit, tidak mengurangi niat pelaku untuk melakukan kejahatan seksual.

” Kalau merujuk data sebelumnya, sepanjang tahun 2017 s.d 30 Juni 2019, angka kekerasan di Aceh mencapai 3.695 kasus dan selama tahun 2020 sd Juli ada 379 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak” imbuh Riris sapaan akrab Direktur Flower Aceh.(fitrie)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here