Pentingnya Peran Pemuda Dukung Pemajuan HAM Di Aceh

0
65

Chapnews.id, Banda Aceh- Dalam rangka perayaan IWD dan Hari HAM internasional 2021, Institute Ungu-Kedutaan Norwegia bekerjasama dengan Flower Aceh menggelar webinar Human Rights Goes to Campus dengan tema “Generasi Muda Memandang Martabat Manusia dan Keindonesiaan” Kamis( 11/03/2021).

Institute Ungu Kedutaan Norwegia juga bekerjasama dengan Pusat Studi Hak Asasi Manusia Universitas Syiah Kuala (Pusham USK), Teater Rongsokan, Millenial Empowerment, Young Voice, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum USK, dan Asian Law Students’ Association (ALSA) USK.

Direktur Institut Ungu, Faiza Mardzoeki menyampaikan akan mendorong generasi muda aktif mendiskusikan masalah HAM dan berpartisipasi memperjuangkannya.

Advertisement

Iklan

“Kegiatan HAM goes to Campus Aceh bertujuan untuk memperkenalkan dan mendiskusikan masalah-masalah Hak Asasi Manusia untuk generasi muda melalui webinar, aksi kampanye dan pentas budaya tentang pemenuhan HAM di Aceh. Kami ingin mahasiswa terlibat aktif bersama memahami kondisi pemenuhan HAM di Indonesia”, kata Faiza.

Disampaikannya,Kegiatan ini mendapatkan respon positif dari Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK, Prof. Taufik Fuadi Abidin. “USK sangat mengapresisasi kegiatan ini, human right merupakan hal yang sangat penting yang dapat membuat kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, Kita ketahui HAM sejak lama menjadi isu sangat penting di negara kita, terkhusus di Aceh dan secara umum di Indonesia, kita sangat membutuhkan pemikiran dan kontribusi kelompok muda,” ujarnya.

Selanjutnya, Penulis dan Peneliti Lepas, Raisa Kamila, anak muda dianggap bisa mendorong negara agar lebih aktif memperhatikan HAM. Pemahaman HAM yang mendasar adalah suatu konsep yang sangat penting untuk menciptakan dunia lebih adil dan aman.

“Saya mengakui persoalan HAM di Indonesia sangat kompleks, banyak catatan buruknya, mulai HAM di masa lalu yang tidak terselesaikan, pengabaian. Korban pelanggaran HAM banyak dari perempuan, anak-anak dan pekerja. Berbagai pelanggaran HAM terjadi di masa lalu karena dalih keamanan dan persatuan NKRI, termasuk pada masa orde baru dan masa peralihannya yang penyelesaiannya tidak benar-benar tuntas,” tegas Raisa.

Pengurus ALSA USK, Raudhatul Jannah, menjelaskan HAM merupakan seperangkat hak yang melekat dan wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi. HAM meliputi hak sipil dan politik, termasuk hak untuk hidup, berekspresi dan kebebasan berpendapat. Hak ekonomi, sosial dan budaya mencakup hak untuk tempat tinggal layak. HAM sangat urgen karena bersifat universal.

Kelompok muda harus berperan aktif, karena berdasarkn sensus Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari 50 persen penduduk Indonesia merupakan generasi Z dan milenial sebanyak 25 persen.Total sangat fantastis untuk menggerakkan masa dalam berpartisipasi. Yang dapat dilakukan oleh anak muda seperti halnya aksi Kamisan, tuturnya.

Sementara itu , Direktur Eksekutif flower Aceh, Riswati menyoroti kondisi pemenuhan hak perempuan korban kekerasan di masa konflik dan damai Aceh.

“Perempuan korban konflik masih ada yang belum mendapatkan hak-haknya, termasuk pemulihan sehingga masih traumatik dan tidak berdaya secara ekonom, begitupun kondisi perempuan korban kekerasan di masa ini. Bahkan pada kasus kekerasan seksual, ada yang penetapan hukuman pada pelaku berupa cambuk, sehingga mengganggu proses pemulihan korban karena korban dapat bertemu kembali dengan pelaku di komunitasnya. Hak restitusi juga jarang didapatkan korban. Bahkan, ada korban yang tidak mendapatkan dukungan dari keluarga atau komunitasnya sehingga harus berpindah tempat tinggal. Kasus kekerasan seksual di Aceh masuk kategori darurat, jadi sangat dibutuhkan implementasi kebijakan yang melindungi hak-hak korban, alokasi anggaran yang memadai, serta penaganan yang terintegrasi melibatkan multi pihak di tingkat pemerintahan dan non pemerintahan, termasuk tokoh-tokoh strategis di desa” sebut Riswati

Riswati menambahkan, perempuan Aceh di masa ini aktif berjuang memberdayakan diri serta berkontribusi dalam pembangunan perdamaian Aceh, termasuk beberapa penyintas korban kekerasan menjadi paralegal komunitas, kader desa, dan peran-peran strategis lainnya di tingkat desa, serta ranah sosial dan politik, namun pengakuan terhadap kiprah perempuan tersebut masih terabaikan.

Dalam kesempatan yang sama , Ketua Pusham USK, Khairani Arifin, menyampaikan persoalan HAM saat ini masih serius, ditambah dengan tidak banyaknya jumalah generasi muda yang peduli tentang isu human right.

“Aceh punya banyak persoalan terkait human right, Aceh hari ini termiskin se-Sumatera, pendidikan rendah, angka stunting nomor tiga di Indonesia. “Itu semua ada didekat kita, tapi ternyata tidak banyak yang peduli,” tegasnya.

Khairani mengharapkan generasi muda untuk lebih aktif, peduli dan memperhatikan hak-hak masyarakat, bisa berkontribusi melalui tulisan, penelitian, kampanye, atau menyuarakannya langsung ke pemerintah.

Webinar yang dipandu oleh aktivis perempuan dan HAM, Suraiya Kamaruzzaman diakhiri dengan pentas budaya oleh teater Rongsokan yang memiliki makna mendalam terkait upaya pemenuhan HAM.

Fauzan Santa, Supervisi artistik menuturkan “Pementasan Nada dasar konseptual pertunjukan musikalisasi-puisi ini bertumpu pada usaha penemuan kembali kemanusiaan sejati. Kemanusiaan yang melampaui status manusia dan klas sosial: laki, perempuan, difabel, tua-muda, kaya-miskin, dan seterusnya. Bahwa manusia lahir dan mati secara tunggal, dan diantara keduanya, dalam pergaulan dunia yang kompleks, apakah nilai kemanusiaan yang fitrah bisa saling menguatkan hingga tapal batas ketiadaan itulah pertanyaan kehidupan.

Itulah mengapa panggung pentas ini bisa seperti rahim ibu atau lahat pusara. Yang menampung lagu-lagu, doa harapan atau ratapan cinta sesame”, imbuh Fauzan.(F3)

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments