Chapnews – Ekonomi – Menjelang bulan suci Ramadan 2026, masyarakat dapat bernapas lega. Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan bahwa harga komoditas pangan pokok seperti daging sapi, daging ayam, dan telur ayam ras akan tetap stabil. Upaya intensif melalui inspeksi mendadak (sidak) di berbagai wilayah dilakukan untuk menjamin ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi hingga Idulfitri.
Dari hasil pemantauan di sejumlah daerah strategis seperti Depok, Bandung, Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi, Kementan menemukan bahwa pasokan di tingkat peternak dan rumah potong hewan (RPH) dalam kondisi yang sangat memadai. Kondisi ini berimplikasi pada stabilitas harga di pasar yang terpantau sesuai dengan Harga Acuan Penjualan (HAP) di tingkat konsumen.

Sebagai contoh, di Pasar Depok Jaya dan Pasar Kemiri Muka, harga telur ayam tercatat di kisaran Rp31.000-Rp32.000 per kilogram, daging ayam Rp37.000-Rp40.000 per kilogram, dan daging sapi stabil di angka sekitar Rp140.000 per kilogram. Pasokan ayam bahkan terlihat melimpah di tangan pedagang, dengan upaya penguatan distribusi yang terus digalakkan untuk menjaga kestabilan harga.
Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, pada Selasa (24/2/2026), menegaskan bahwa harga masih dalam batas normal. "Harga daging ayam rata-rata masih berada di kisaran Rp37.000-Rp40.000 per ekor. Ini menunjukkan pasokan dan harga tetap terjaga," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima chapnews.id.
Pemantauan juga dilakukan di Bandung pada 20-21 Februari 2026, khususnya di RPH Kabupaten Bandung dan Pasar Kiaracondong. RPH MBC melaporkan rata-rata pemotongan 15 ekor sapi per hari dengan pasokan sapi siap potong yang mencukupi. Harga karkas di RPH berada di angka Rp105.000-Rp107.000 per kilogram, masih dalam koridor HAP.
Namun, di tingkat pedagang, ditemukan sedikit dinamika. Daging sapi dijual antara Rp130.000-Rp140.000 per kilogram, sementara untuk tipe has bisa mencapai Rp150.000 per kilogram, atau sekitar 7 persen di atas HAP. Kementan mengidentifikasi bahwa struktur harga ini menunjukkan adanya perbedaan margin antara pedagang tingkat pertama dan kedua di hilir.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, mengklarifikasi bahwa kenaikan harga di pasar tidak bersumber dari hulu. "Harga karkas di RPH Rp105.000-Rp107.000 per kilogram masih dalam koridor acuan. Jadi, kenaikan di pasar lebih pada margin di tingkat pedagang," jelasnya. Ia menambahkan, harga ayam hidup di kandang juga masih sesuai acuan, sehingga fokus utama adalah menjaga stabilitas distribusi dan memastikan margin di hilir tetap wajar dan tidak memberatkan konsumen.


