Chapnews – Nasional – Wali Kota Bandung, Muhamad Farhan, mengaku jengah dengan konflik berkepanjangan antara manajemen lama dan baru Bandung Zoo. "Saya sudah capek dengan pertengkaran terus-menerus ini," tegas Farhan kepada wartawan di Bandung, Kamis (3/7). Ia menekankan bahwa pemerintah kota sudah berupaya keras menyelesaikan masalah ini, namun perselisihan internal terus berlanjut. "Aparat penegak hukum sudah turun tangan, pemerintah juga sudah turun tangan, kurang apa lagi? Ini sudah kelewat batas," tambahnya dengan nada kesal.
Farhan menegaskan bahwa tanggung jawab atas penutupan Bandung Zoo sepenuhnya berada di pundak para pengelola, baik manajemen lama maupun baru. Menurutnya, pemerintah kota tidak akan ikut campur tangan, mengingat kebun binatang tersebut selama ini tidak memberikan bagi hasil dan pajak yang signifikan kepada pemerintah. "Tanah ini milik pemerintah, mereka tidak membayar sewa, dan pajak hiburan yang mereka setorkan sangat kecil," jelasnya. "Jangan terus-terusan menjadikan pemerintah sebagai kambing hitam!"

Ancaman serius pun dilontarkan Farhan. Ia tidak menutup kemungkinan akan meminta Kementerian Kehutanan untuk meninjau ulang izin konservasi Bandung Zoo. "Jika situasi ini terus berlarut, saya akan meminta Kementerian Kehutanan untuk mengevaluasi izin konservasi mereka," ancamnya.
Penutupan mendadak Bandung Zoo pada Kamis (3/7) di Jalan Tamansari diduga akibat keributan di ruang keuangan pada Rabu (2/7) malam. Pantauan chapnews.id di lokasi menunjukkan petugas keamanan berjaga di pintu masuk, sementara beberapa karyawan terlihat berada di luar area kebun binatang.
Sulhan Syafii, Humas Bandung Zoo dari manajemen lama, menjelaskan bahwa penutupan disebabkan oleh dualisme kepemimpinan yang membingungkan para pekerja. Perselisihan antara manajemen lama dan baru terkait keabsahan pengelolaan kebun binatang mengakibatkan serikat pekerja mengambil alih ruang keuangan dan menyerahkannya kepada manajemen lama, memicu keributan.
Konflik ini berdampak buruk pada satwa di Bandung Zoo. Sulhan mengungkapkan, sejak manajemen baru masuk pada Maret 2025, tujuh satwa telah mati dan satu mengalami stres. Pengelolaan kompos pun terganggu akibat efisiensi yang dilakukan manajemen baru.
Ully Rangkuti, Humas Bandung Zoo dari manajemen baru, mengaku tidak mengetahui pasti penyebab penutupan, namun membenarkan adanya penutupan dan dampaknya terhadap pengunjung yang sudah datang. Ia juga menekankan bahwa perawatan satwa tetap dilakukan. Terkait kematian satwa, Ully menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh faktor usia, cuaca, dan beberapa faktor lainnya, bukan karena kelalaian.
Kekecewaan pengunjung pun meluap. Iis (40), warga Cicadas, dan Dadi, warga Cicaheum, mengungkapkan kekecewaan mereka karena penutupan mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya. Mereka terpaksa mencari alternatif tempat liburan lainnya. Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan Bandung Zoo dan nasib satwa di dalamnya.



