Chapnews – Nasional – Sebuah kisah pilu menyelimuti suasana arus mudik Lebaran di Pelabuhan Ciwandan, Banten. Seorang pemudik pria mendadak dihantam kabar duka mendalam: ibundanya meninggal dunia saat ia tengah menanti jadwal keberangkatan kapal menuju kampung halaman. Insiden yang menyayat hati ini sontak menjadi perhatian dan viral di media sosial, menunjukkan sisi lain dari hiruk-pikuk perjalanan mudik.
Momen menyedihkan itu terjadi pada Senin (16/3), ketika pemudik tersebut menerima panggilan telepon yang mengubah segalanya. Dari ujung telepon, saudaranya mengabarkan bahwa sang ibu telah berpulang di wilayah Mesuji, Lampung. Sontak, suasana haru dan kepedihan menyelimuti pria yang identitasnya tidak disebutkan itu, membuatnya tampak sangat terpukul dan kehilangan di tengah keramaian pelabuhan.

Dirsamapta Polda Banten, Kombes Kukuh Priyo Taruno, mengonfirmasi insiden tersebut kepada awak media di Pelabuhan Pelindo Ciwandan. "Saat menerima kabar tersebut, pemudik itu terlihat sangat terpukul dan syok," ujar Kombes Kukuh, menjelaskan kondisi emosional pemudik yang mendadak diselimuti awan duka.
Melihat kondisi pemudik yang begitu terpukul, anggota kepolisian yang berjaga di lapangan segera sigap memberikan bantuan dan pendampingan. "Anggota kami di lapangan langsung bergerak cepat memberikan pendampingan dan dukungan moril. Kami juga memfasilitasi agar pemudik tersebut dapat segera kembali ke kampung halamannya untuk mengurus pemakaman ibundanya," tambah Kukuh.
Petugas memastikan bahwa yang bersangkutan dalam kondisi yang cukup kuat untuk melanjutkan perjalanan meskipun dalam keadaan berduka. Kombes Kukuh juga mengingatkan agar pemudik tersebut tidak segan meminta bantuan kepada petugas jika menghadapi kesulitan selama perjalanan pulang. "Kami memberikan dukungan penuh dan memastikan ia tidak sendirian dalam menghadapi cobaan berat ini," tegasnya, menunjukkan komitmen pelayanan dan empati dari aparat kepolisian.
Kisah ini menjadi pengingat akan beratnya perjalanan mudik, di mana kebahagiaan bertemu keluarga bisa saja berubah menjadi duka mendalam dalam sekejap. Namun, kesigapan dan empati petugas di lapangan menjadi secercah harapan di tengah kesedihan, memastikan setiap pemudik, bahkan dalam kondisi terberat sekalipun, tidak sendirian dalam menghadapi takdir.


