Chapnews – Ekonomi – PT Krakatau Steel (KRAS) menunjukkan sinyal positif setelah menerima suntikan modal dari Danantara. Langkah ini menjadi angin segar bagi perusahaan baja pelat merah tersebut, mendorong peningkatan efisiensi produksi, optimalisasi rantai pasok, penguatan tata kelola, dan restrukturisasi bisnis secara menyeluruh.
Dukungan finansial dari Danantara berperan sebagai katalisator, memungkinkan Krakatau Steel untuk meningkatkan utilisasi fasilitas produksi, menstabilkan pasokan bahan baku, mempercepat siklus produksi, serta memperkuat daya saing harga dan pengiriman kepada pelanggan.

Manajemen Krakatau Steel menyampaikan apresiasi mendalam kepada Danantara, yang dipandang sebagai mitra strategis pemerintah dalam program penyehatan BUMN. Komitmen Danantara dalam memberikan dukungan modal kerja dinilai signifikan dalam mendorong percepatan pemulihan kinerja Krakatau Steel.
Suntikan modal ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat struktur finansial dan operasional perusahaan. Dengan demikian, Krakatau Steel dapat kembali ke jalur produktivitas dan profitabilitas yang berkelanjutan. Perseroan meyakini bahwa dukungan dari Danantara adalah wujud penguatan BUMN strategis sebagai pilar industri nasional, serta menjaga keberlanjutan operasional Krakatau Steel yang merupakan kepentingan strategis bagi kemandirian industri baja Indonesia.
Febriany Eddy, Managing Director Business-3 Danantara Asset Management, menegaskan bahwa Krakatau Steel merupakan industri strategis nasional yang perlu segera disehatkan. Hal ini mengingat proyeksi kebutuhan baja domestik dan regional yang terus meningkat seiring dengan perkembangan sektor konstruksi, transportasi, dan manufaktur.
"Pertumbuhan industri baja selalu selaras dengan pertumbuhan ekonomi. Karena itu, melihat industri baja tidak bisa hanya dari kondisi hari ini," ujar Febriany Eddy.
Menurutnya, sektor baja merupakan investasi jangka panjang. Prioritas saat ini adalah membuat industri baja BUMN lebih efisien, sehingga penyehatan Krakatau Steel dinyatakan tepat masuk pada agenda tersebut.
"Investasinya bersifat jangka panjang 10 sampai 15 tahun ke depan. You invest for tomorrow, not today. Tetapi hari ini industrinya tetap harus efisien dan efektif," jelas Febriany Eddy.



