Chapnews – Nasional – Bandung Zoo, salah satu ikon Kota Kembang, kini menjadi sorotan tajam. Konflik kepengelolaan yang tak kunjung usai dan keterbatasan anggaran operasional telah membawa kebun binatang ini ke ambang krisis, mengancam kesejahteraan ratusan satwa di dalamnya. Setelah empat bulan pintu gerbangnya tertutup rapat, dampak kekurangan dana mulai terasa parah, mendorong para karyawan untuk mengambil langkah luar biasa: menggalang donasi demi memastikan satwa-satwa kesayangan mereka tetap mendapatkan pakan dan perawatan layak.
Situasi darurat ini bermula dari penutupan operasional kebun binatang yang telah berlangsung sekitar empat bulan. Akibatnya, dana operasional yang tersisa terus menyusut drastis, menyebabkan ketersediaan pakan dan biaya perawatan satwa menjadi sangat terbatas. Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam di kalangan para pekerja yang setiap hari berinteraksi langsung dengan hewan-hewan tersebut.

Yaya Suhaya, seorang karyawan senior sekaligus Ketua Serikat Pekerja Mandiri Direnten (SPMD), menjelaskan bahwa inisiatif patungan dan penggalangan donasi muncul dari kekhawatiran para pekerja terhadap kondisi hewan yang mereka rawat. "Kami dari karyawan berinisiatif untuk menggalang donasi kepada masyarakat sekitar. Ini bentuk kepedulian kami terhadap satwa karena kami punya kewajiban memelihara dan menjaga satwa dengan baik," ujar Yaya saat ditemui chapnews.id di sela-sela kegiatan "ngamen galang dana" di depan Bandung Zoo, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Jumat (12/12).
Yaya menambahkan, tanpa uluran tangan dari masyarakat, nasib satwa di sana terancam karena bantuan dari pemerintah belum juga tiba. Selama empat bulan terakhir, dana operasional yang menipis memaksa mereka untuk berhemat, bahkan hingga kualitas pakan terpaksa menurun. "Berapapun uang yang tersedia lama-lama akan habis, dan itu sudah kami rasakan saat ini. Bahkan saat ini kami hanya memberikan stok pakan yang seadanya," jelasnya.
Menurut Yaya, kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena satwa berpotensi kelaparan jika tidak segera mendapatkan dukungan. Ia mengakui, kualitas pakan yang diberikan "mungkin di luar standar" karena keterbatasan dana. Jika sebelumnya satwa karnivora mendapat daging sapi, kambing, atau ayam, kini jenis pakan harus disesuaikan, meski volume pemberian tetap diupayakan agar satwa tidak kelaparan. "Dibilang mungkin di luar standar karena keadaan kita semakin menipis. Jadi semampu kita saja untuk menjamin sehingga satwa tetap hidup," katanya.
Meskipun demikian, para karyawan tidak keberatan dengan upaya ekstra ini. "Kami sudah puluhan tahun merawat satwa, hubungan kami dengan mereka sangat erat. Ketika satwa dalam keadaan seperti ini, kami juga merasakan kesedihannya, makanya kami ikut berbagi," tutur Yaya, menunjukkan ikatan emosional yang kuat antara pekerja dan satwa.
Penggalangan donasi untuk pakan satwa Bandung Zoo ini telah berlangsung sekitar satu bulan. Awalnya, langkah ini dimulai ketika ada kunjungan dari sebuah sekolah yang sekaligus menerima edukasi mengenai kondisi satwa di kebun binatang. Para siswa dan guru, setelah melihat situasi secara langsung, turut memberikan donasi. "Kami tidak memaksa. Mereka ikut membantu karena merasa peduli," jelas Yaya.
Terkait kebutuhan dana selama sebulan, Yaya menyatakan bahwa pihaknya belum dapat menyebutkan angka pasti karena informasi tersebut berada di bawah wewenang bagian pemasaran. Namun yang jelas, kebutuhan pakan dan operasional setiap bulan cukup besar sehingga dukungan terus-menerus sangat dibutuhkan. Ia memastikan, kondisi satwa-satwa di Bandung Zoo saat ini masih baik berkat penjagaan maksimal dari para karyawan. "Kondisi satwa masih baik-baik saja, dan itu karena kami menjaganya semaksimal mungkin. Satwa di kebun binatang ini adalah milik bersama. Kami berharap ada perhatian lebih agar mereka tetap terlindungi," harapnya.
Sementara itu, chapnews.id telah mencoba meminta keterangan dari Wali Kota Bandung, M Farhan, terkait penggalangan dana untuk pakan satwa di Bandung Zoo, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada jawaban resmi.
Sorotan dari Anggota DPR
Kondisi memprihatinkan ini juga menarik perhatian anggota DPR yang terpilih dari Dapil Bandung-Cimahi, Nurul Arifin. Ia mengaku prihatin melihat seratusan karyawan Bandung Zoo terpaksa merogoh kocek pribadi dan membuka donasi untuk membeli pakan satwa. Patungan sukarela ini dilakukan demi memastikan ratusan hewan tetap bisa makan di tengah kondisi keuangan yayasan pengelola yang kian menipis.
Nurul menegaskan bahwa polemik internal apa pun tidak boleh berujung pada terbengkalainya kebutuhan dasar satwa yang sepenuhnya bergantung pada manusia. "Saya sangat prihatin dengan kondisi bonbin [kebun binatang/Bandung Zoo] Kota Bandung. Seharusnya konflik di antara pihak-pihak yang bersengketa, tidak mengabaikan keberlangsungan hidup hewan-hewan yang ada di bonbin tersebut," ujar Nurul, seperti dikutip dari chapnews.id pada Selasa (2/12).
Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar itu menekankan bahwa lebih dari 700 satwa yang hidup di Bandung Zoo tetap membutuhkan pakan, perawatan harian, dan pengawasan medis, terlepas dari konflik yang terjadi di level pengelola. Menurutnya, satwa bukan objek yang bisa menunggu hingga masalah internal mereda. "Jangan sampai hewan-hewan tersebut kelaparan, apalagi sampai mati sia-sia karena kurang perhatian dari pengelola," tegasnya.



