Ads - After Header

Misteri Tenggelamnya KMP Tunu: Muatan Berlebih atau Masalah Teknis?

Ahmad Dewatara

Misteri Tenggelamnya KMP Tunu: Muatan Berlebih atau Masalah Teknis?

Chapnews – Nasional – Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali menambah daftar panjang kecelakaan laut di wilayah tersebut dalam satu dekade terakhir. Insiden yang terjadi Rabu (2/7) malam, 30 menit setelah kapal meninggalkan Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Gilimanuk, Bali, telah menelan korban jiwa dan menyisakan pertanyaan besar: apa penyebab sebenarnya?

Hingga Kamis (3/7) sore, dari 65 penumpang dan awak kapal, 35 orang telah ditemukan. Enam di antaranya meninggal dunia, sementara 29 lainnya berhasil diselamatkan. Kejadian ini menjadi kasus keenam kecelakaan kapal di Selat dan Laut Bali sejak 2015, melibatkan kapal penyeberangan bahkan kapal milik TNI.

Misteri Tenggelamnya KMP Tunu: Muatan Berlebih atau Masalah Teknis?
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Deretan kecelakaan sebelumnya meliputi tenggelamnya KMP Rafelia II (2016), kecelakaan speed boat Caspla Bali 3 (2016), kebakaran KMP Labitra Adinda (2018), tabrakan Kapal Tunu Pratama Jaya 3888 dengan KMP Jalur Nusa (2019), tenggelamnya KMP Yunicee (2021), dan tragedi hilangnya KRI Nanggala-402 (2021).

Senior investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Aleik Nurwahyudi, menyatakan bahwa kasus KMP Tunu memiliki kemiripan dengan insiden KMP Yunicee dan Rafelia II. KNKT tengah menyelidiki dugaan kebocoran kapal, meskipun ada kesaksian yang menyebutkan kapal terbalik dengan cepat. Aleik menjelaskan, kecelakaan kapal bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk cuaca buruk dan kelebihan muatan. Namun, ia menekankan pentingnya kemampuan nakhoda dalam memahami stabilitas kapal dan pengambilan keputusan terkait muatan, terutama dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung. Ia juga menyoroti masalah kelebihan muatan sebagai kontributor utama dalam banyak kasus kecelakaan kapal.

Dari sisi geografis, Aleik menjelaskan Selat Bali memiliki karakteristik unik mirip "ujung tutup botol", dengan kontur dasar laut yang mengerucut dan efek arus laut yang kuat, ditambah angin kencang akibat pengaruh dua gunung besar di sekitarnya. Letaknya sebagai pintu masuk air dari Samudera Hindia juga meningkatkan potensi dampak pergolakan laut.

Teguh Putranto, Kepala Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, menambahkan bahwa kapal umumnya oleng akibat masalah stabilitas, melewati batas kemiringan yang diizinkan. Gelombang dari samping dan kebocoran menjadi faktor penyebab utama. Ia menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap kondisi cuaca, performa kapal, dan pengaturan muatan. Teguh juga menyarankan peningkatan regulasi keselamatan, pengawasan teknis rutin, pelatihan SDM, penguatan sistem pemantauan dan komunikasi kapal, serta sosialisasi prosedur keselamatan kepada penumpang. Hasil investigasi KNKT yang cepat diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti tragedi KMP Tunu dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer