Chapnews – Nasional – Data terbaru dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mengungkap fakta mengejutkan terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Hingga 27 September 2025, tercatat sebanyak 8.649 anak menjadi korban keracunan diduga akibat program tersebut. Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, menyebutkan bahwa terjadi lonjakan signifikan, dengan penambahan 3.289 kasus keracunan hanya dalam dua pekan terakhir.
JPPI mengecam respons pemerintah yang dinilai lambat dan hanya fokus pada penutupan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bermasalah. Mereka menilai pendekatan ini sebagai "tambal sulam" yang tidak menyentuh akar permasalahan. Ubaid menegaskan bahwa masalah MBG lebih kompleks dari sekadar keracunan, meliputi menu di bawah standar, pengurangan harga per porsi, konflik kepentingan, hingga pembungkaman suara kritis di sekolah. JPPI menuntut penghentian sementara seluruh operasional dapur MBG untuk evaluasi dan pembenahan total.

Evaluasi JPPI mengungkap tiga masalah fundamental, yaitu pemahaman gizi dan pangan yang buruk, kepemimpinan yang keliru di Badan Gizi Nasional (BGN) yang didominasi purnawirawan TNI, serta eksklusi sekolah dan partisipasi masyarakat sipil. Sekolah dinilai hanya menjadi objek program, padahal MBG mencaplok anggaran pendidikan.
Menyikapi temuan ini, JPPI mendesak Presiden Prabowo untuk menghentikan sementara program MBG, mereformasi BGN dengan melibatkan tenaga profesional, serta membangun mekanisme akuntabilitas dan partisipasi publik yang transparan. Sebelumnya, pemerintah telah menggelar rapat koordinasi untuk menanggulangi kejadian luar biasa pada program MBG, dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa seluruh kasus keracunan akan diinvestigasi secara menyeluruh.



