Revolusi Bauksit RI: Devisa Melejit 394%, Siap Jadi Raja Aluminium!
Chapnews – Ekonomi – Selama puluhan tahun, kekayaan alam Indonesia, khususnya bauksit di Kalimantan Barat, hanya dipandang sebagai komoditas ekspor mentah. Mineral "tanah merah" yang dahulu dikirim ke luar negeri tanpa banyak jejak nilai tambah, kini menjadi titik balik strategis dalam sejarah industrialisasi Indonesia. Melalui inisiatif hilirisasi terpadu di Mempawah, konsorsium BUMN pertambangan yang dipimpin MIND ID, bersama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Aneka Tambang Tbk (Antam), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), sedang merancang masa depan industri aluminium nasional, mengubah bahan mentah menjadi logam strategis bernilai tinggi.

Di kawasan inilah, sebuah rantai nilai baru dilahirkan: bauksit diolah menjadi alumina, kemudian dimurnikan menjadi aluminium—logam masa depan yang menjadi tulang punggung berbagai industri modern. Ini bukan sekadar pembangunan fasilitas industri, melainkan fondasi pembangunan kedaulatan ekonomi bangsa.
Mengubah Tanah Jadi Kekuatan Ekonomi Berlipat Ganda
Transformasi ini menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa. Bauksit mentah hanya bernilai sekitar USD40 per metrik ton. Namun, melalui pengolahan menjadi alumina, nilainya melonjak sepuluh kali lipat menjadi sekitar USD400 per metrik ton. Puncaknya, ketika mencapai tahap akhir menjadi aluminium, nilainya bisa melonjak hingga USD3.000 per metrik ton.
Dalam satu rantai proses hilirisasi ini, Indonesia mampu menciptakan nilai tambah hingga 70 kali lipat. Lonjakan ini bukan sekadar peningkatan harga; ia adalah simbol perubahan fundamental, bahwa Indonesia tidak lagi menjual potensi, melainkan menjual kekuatan industri dan teknologi.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan bahwa hilirisasi merupakan fondasi kemandirian ekonomi nasional. "Proyek ini merupakan kontribusi nyata Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, serta memperkuat kedaulatan negara di sektor mineral untuk masa depan Indonesia," ujar Maroef, menyoroti visi di balik proyek hilirisasi fase I.
Senada, CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menekankan bahwa pengembangan ekosistem terintegrasi ini menjadikan sumber daya mineral tidak lagi sekadar komoditas ekspor mentah, melainkan bahan baku strategis yang mendukung transformasi industri nasional. "Melalui fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium ini kita berupaya mewujudkan transformasi industri yang mampu mendorong penciptaan lapangan kerja dan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional," kata Rosan.
Dari Ketergantungan Menuju Kemandirian Industri
Selama bertahun-tahun, Indonesia masih bergantung pada impor aluminium untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Ketergantungan ini menjadi paradoks bagi negara yang memiliki cadangan bauksit melimpah ruah.
Kini, melalui pembangunan smelter aluminium berkapasitas 600.000 metrik ton per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 berkapasitas 1 juta metrik ton per tahun, paradoks itu mulai diakhiri. Saat fasilitas ini beroperasi penuh, cadangan devisa nasional diperkirakan melonjak drastis dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun, sebuah peningkatan fantastis sebesar 394 persen. Lebih dari sekadar angka, ini adalah langkah nyata menuju kedaulatan industri dan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan bagi Indonesia.



