Chapnews – Ekonomi – Gejolak geopolitik di kawasan Timur Tengah telah menimbulkan dampak signifikan pada sektor penerbangan Indonesia. Tercatat, sebanyak 46.000 calon penumpang terpaksa membatalkan keberangkatan mereka dari dua bandara utama, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) dan Bandara Internasional Ngurah Rai (DPS), Bali. Pembatalan ini merupakan imbas langsung dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Achmad Syahir, Wakil Direktur Utama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), mengungkapkan data tersebut dalam konferensi pers di Bandara Soetta, Tangerang, Banten, pada Rabu (11/3/2026). Menurutnya, dalam kurun waktu kurang dari sebulan, tepatnya dari 28 Februari hingga 10 Maret 2026, sebanyak 194 jadwal penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta mengalami gangguan atau pembatalan, memengaruhi total 26.303 penumpang.

"Kondisi geopolitik yang memanas saat ini memang berdampak pada sejumlah rute penerbangan," jelas Syahir. Ia merinci, Bandara Soekarno-Hatta mencatat enam rute tujuan Timur Tengah yang terganggu, sementara Bandara Ngurah Rai memiliki tiga rute terdampak. Dari Soekarno-Hatta, rute Doha (DOH) menjadi yang paling parah terkena imbas, dengan 8.934 penumpang batal terbang. Puncak gangguan terjadi pada 4 Maret 2026, ketika 1.717 penumpang harus menunda perjalanan mereka. Enam rute yang dimaksud meliputi Abu Dhabi (AUH), Doha (DOH), Dubai (DXB), Jeddah (JED), Muscat (MCT), dan Madinah (MED).
Situasi serupa juga terjadi di Bandara Ngurah Rai, Bali. Sebanyak 93 penerbangan dari dan menuju bandara ini terdampak, mengakibatkan 20.718 penumpang mengalami pembatalan. Tiga rute yang terpengaruh adalah Abu Dhabi (AUH), Doha (DOH), dan Dubai (DXB). Rute Dubai (DXB) mencatat jumlah penumpang terdampak terbanyak, mencapai 8.296 orang. Hari dengan jumlah penumpang terdampak tertinggi di Ngurah Rai adalah 2 Maret 2026, dengan 1.620 penumpang.
Beberapa maskapai penerbangan internasional turut merasakan dampak dari krisis ini. Etihad Airways melaporkan 67 penerbangan terdampak untuk rute Jakarta, Bali, dan Abu Dhabi, yang biasanya dilayani oleh pesawat Boeing 787-9 dan 787-10. Sementara itu, Emirates Airlines mencatat 62 penerbangan terganggu pada rute Jakarta, Bali, dan Dubai, dengan armada yang melibatkan Boeing 777W, Airbus A380, dan Boeing 777-300. Krisis geopolitik ini telah memaksa ribuan rencana perjalanan ke Timur Tengah harus ditunda atau dibatalkan, menimbulkan kerugian tidak hanya bagi maskapai tetapi juga bagi para calon penumpang.


