Chapnews – Ekonomi – Fenomena WNI yang bekerja di luar negeri makin marak. Meskipun pemerintah mengklaim telah menciptakan jutaan lapangan kerja baru, banyak yang masih memilih mencari nafkah di negara lain. Namun, sukses di negeri orang tak hanya soal gaji besar, melainkan juga strategi keuangan yang tepat.
Perencana keuangan, Mohamad Andoko, menekankan pentingnya manajemen keuangan bagi pekerja migran. Menurutnya, penghasilan tinggi di luar negeri tak menjamin kesejahteraan jika pengelolaannya buruk. Andoko menyarankan penggunaan dua rekening: satu di negara tempat bekerja untuk pengeluaran sehari-hari, dan satu lagi di Indonesia sebagai tabungan jangka panjang. "Transfer ke rekening di Indonesia ibarat menabung, terhindar dari pengeluaran tak terkontrol," jelasnya kepada chapnews.id, Senin (14/7/2025).

Memahami isi kontrak kerja sangat krusial. Rincian gaji, tunjangan, dan fasilitas akan membantu menghitung pemasukan dan pengeluaran bulanan. Andoko menyarankan alokasi dana: 50% untuk kebutuhan pokok, 20-30% untuk keinginan pribadi, dan 10-20% untuk tabungan atau investasi. "Biaya hidup di negara maju tinggi. Riset pengeluaran dasar dan manfaatkan subsidi pemerintah setempat. Hindari gaya hidup konsumtif agar gaji besar tak habis hanya untuk biaya hidup," imbuhnya.
Sebelumnya, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, menegaskan bahwa bekerja di luar negeri merupakan pilihan pribadi. Pernyataan ini menanggapi polemik anjuran mencari kerja di luar negeri untuk mengurangi pengangguran, yang sempat dilontarkan oleh politisi Abdul Kadir Karding sebelum kemudian dibantahnya sendiri.


