Chapnews – Nasional – Aksi demonstrasi pengemudi ojek online (ojol) di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (21/7/2025), sekitar pukul 16.28 WIB, memanas. Massa aksi berupaya menerobos barikade polisi, bahkan ada yang menyalakan flare. Suasana tegang langsung terasa di sekitar Monumen Nasional (Monas).
Petugas kepolisian berupaya meredam situasi dengan pengeras suara, meminta massa untuk tidak terprovokasi dan menghentikan aksi pembakaran. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombespol. Susatyo Purnomo Condro, juga ikut memberikan instruksi agar massa mundur dan tidak melakukan tindakan anarkis.

Aksi ini dilatarbelakangi sejumlah tuntutan. Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojol Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menyampaikan beberapa poin utama. Pertama, mendesak pemerintah untuk segera menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) atau Undang-Undang Transportasi Online, sebagai solusi sementara sebelum UU tersebut disahkan DPR. "Kami minta Bapak Presiden untuk bisa menghadirkan PERPPU sebagai alternatif awal," tegas Igun.
Tuntutan kedua, penurunan potongan biaya aplikasi oleh aplikator menjadi maksimal 10 persen. Igun menyoroti praktik potongan biaya yang saat ini dinilai sangat tinggi, bahkan mencapai hampir 50 persen. Ketiga, pemerintah diminta untuk mengatur tarif pengiriman barang dan makanan. Keempat, dilakukan audit investigatif terhadap seluruh aplikator. Dan terakhir, penghapusan sistem aceng, slot, dan multi order yang dianggap menimbulkan banyak masalah, salah satunya konflik antara pengemudi dan pelanggan seperti yang terjadi di Yogyakarta baru-baru ini. "Sistem multi order ini banyak menimbulkan masalah, salah satunya keterlambatan pengiriman," tambah Igun. Situasi di Monas masih terus dipantau.



