Chapnews – Nasional – Banjir parah yang melanda Kota Malang, Jawa Timur, beberapa waktu lalu ternyata disebabkan oleh masalah klasik: sedimentasi dan tumpukan sampah yang menyumbat saluran air. Hal ini diungkapkan langsung oleh Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, yang menyebut bahwa kondisi ini menjadi penyebab utama air meluap dan merendam puluhan titik di wilayahnya.
Wahyu menjelaskan bahwa saluran air yang seharusnya berfungsi mengalirkan air justru dipenuhi endapan sedimen dan sampah. Akibatnya, air tidak dapat masuk ke dalam saluran dan meluber ke jalan-jalan serta pemukiman warga. "Air tidak bisa masuk ke dalam, padahal saluran sudah kami buat dan ada bak kontrol tadi saya melihat tetapi sedimen sampah yang ada disana sangat tinggi sekali," ujarnya saat meninjau lokasi banjir.

Selain masalah sampah, Wali Kota juga menyoroti kondisi bozem di Tunggulwulung yang sudah tidak mampu menampung debit air yang tinggi. Menurutnya, jika bozem ini meluap, maka banjir di Kota Malang akan menjadi tak terhindarkan.
Untuk mengatasi masalah ini, Pemkot Malang telah menyiapkan langkah-langkah pengerukan sedimen dan sampah di saluran air. Selain itu, proyek pembangunan drainase di kawasan Jalan Soekarno-Hatta juga terus dikebut. Wahyu optimis, jika proyek drainase ini selesai, masalah banjir di Kota Malang dapat teratasi pada tahun 2026.
Namun, Wahyu menekankan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah daerah. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk peduli dan sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air.
Sebelumnya, sebanyak 39 titik di Kota Malang dilanda banjir pada Kamis (4/12) akibat hujan deras yang memicu peningkatan debit air di drainase dan sungai. Banjir tersebut merendam tiga kecamatan, yaitu Blimbing, Sukun, dan Lowokwaru, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Bahkan, beberapa rumah warga jebol dan kendaraan bermotor hanyut akibat derasnya arus banjir.



