Chapnews – Nasional – Depok – Kabar duka menyelimuti keluarga besar Polri dan seluruh masyarakat Indonesia yang mengenal sosok Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Meriyati Hoegeng, atau yang akrab disapa Eyang Meri, istri dari mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang legendaris itu, telah berpulang pada usia 100 tahun. Beliau dijadwalkan akan dimakamkan di Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Rabu (4/2) besok, bersanding dengan makam mendiang suaminya.
Informasi mengenai pemakaman ini dikonfirmasi langsung oleh Kapolres Metro Kota Depok, Kombes Pol Abdul Waras. "Informasi dari keluarga, besok dimakamkan di Bogor, Tajur Halang, dekat makam Bapak [Hoegeng]," ujar Waras dari rumah duka yang berlokasi di kompleks Pesona Khayangan, Kota Depok.

Eyang Meri menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa (3/2) hari ini di Rumah Sakit Bhayangkara Polri, Kramatjati, Jakarta Timur, setelah menjalani perawatan intensif. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, dan semua pihak yang mengenang jasa-jasa Jenderal Hoegeng serta kesetiaan Eyang Meri sebagai pendamping hidupnya.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 16.00 WIB menunjukkan, rumah duka mulai ramai didatangi oleh sejumlah kerabat dekat. Tim pengamanan dari aparat Polres Metro Depok juga telah bersiaga untuk membantu kelancaran prosesi duka.
Meriyati Hoegeng lahir pada 23 Juni 1925 dari pasangan Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Ia mengikat janji suci pernikahan dengan Hoegeng Iman Santoso pada 31 Oktober 1946 di Yogyakarta. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Sri Pamujining Rahayu, Reni Soerjanti, dan Aditya Soegeng Roeslani.
Semasa hidupnya, Eyang Meri dikenal sebagai pendamping setia Jenderal Hoegeng, Kapolri kelima RI yang menjabat pada kurun waktu 1968-1971. Hoegeng sendiri dikenang sebagai ikon integritas dan kesederhanaan yang luar biasa. Ia adalah sosok yang berkomitmen penuh memberantas korupsi dan gratifikasi di institusi kepolisian, meninggalkan jejak keteladanan yang tak lekang oleh waktu.
Selain sebagai Kapolri, Hoegeng juga pernah mengemban tugas penting lainnya, seperti Menteri Luar Negeri pada tahun 1965 dan Menteri Sekretaris Kabinet Inti pada tahun 1966 di era pemerintahan Presiden Sukarno. Hingga wafatnya pada 14 Juli 2004, nama Hoegeng selalu identik dengan kejujuran dan kesederhanaan yang patut ditiru.
Bahkan, almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat RI, pernah melontarkan candaan yang melegenda, "Polisi yang baik itu cuma tiga. Pak Hoegeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi, dan polisi tidur." Sebuah ungkapan satir yang secara tidak langsung menggambarkan betapa tingginya penghormatan terhadap integritas Hoegeng, dan kini, pendamping setianya, Eyang Meri, telah menyusulnya. Foto almarhumah Meriyati Hoegeng semasa hidupnya, yang sebelumnya diabadikan via chapnews.id, turut menjadi pengingat akan sosoknya yang kini telah berpulang.



