Outlook Utang RI Negatif! BI Buka Suara, Ada Apa?
Chapnews – Ekonomi – Lembaga pemeringkat kredit global, Moody’s, baru-baru ini mengumumkan keputusannya untuk mempertahankan sovereign credit rating Republik Indonesia pada level Baa2. Namun, dalam langkah yang menarik perhatian, Moody’s juga merevisi prospek (outlook) utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Perubahan outlook ini berlaku efektif pada 5 Februari, menandakan adanya pandangan baru terhadap potensi risiko ke depan.

Dalam laporan terbarunya, Moody’s menjelaskan bahwa penegasan peringkat Baa2 ini didasarkan pada ketahanan ekonomi Indonesia yang dinilai tetap kuat. Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan solid menjadi pilar utama, ditopang oleh kekuatan struktural yang meliputi kekayaan sumber daya alam serta demografi yang menguntungkan, menjanjikan prospek pertumbuhan jangka menengah yang positif. Kredibilitas kebijakan moneter yang terjaga serta kehati-hatian fiskal yang konsisten juga turut mendukung stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional, menjadi faktor penting dalam mempertahankan peringkat kredit tersebut.
Meskipun demikian, revisi outlook menjadi negatif tidak lepas dari pandangan Moody’s mengenai potensi risiko yang muncul dari penurunan kepastian kebijakan. Jika kondisi ini berlanjut, Moody’s memperkirakan dapat berimplikasi terhadap kinerja perekonomian Indonesia secara keseluruhan.
Gubernur BI Buka Suara
Menanggapi keputusan Moody’s tersebut, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, segera angkat bicara. Perry menegaskan bahwa penyesuaian outlook ini diyakini tidak mencerminkan adanya pelemahan fundamental dalam perekonomian Indonesia.
"Di tengah tingginya gejolak dan ketidakpastian global, kinerja ekonomi domestik kita tetap solid," ujar Perry, seperti dikutip dari chapnews.id. Ia memaparkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 tercatat impresif sebesar 5,39%, sehingga secara keseluruhan tahun 2025 pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1%.
Lebih lanjut, Perry menambahkan, inflasi tetap terkendali pada angka 2,92%, berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan. Stabilitas nilai tukar Rupiah juga terus diperkuat melalui komitmen kuat Bank Indonesia dalam menjaga pasar.
"Stabilitas sistem keuangan juga tetap terjaga baik, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang terjaga pada level tinggi, serta risiko kredit yang rendah," jelas Perry. Ia juga menyoroti peran penting digitalisasi sistem pembayaran yang didukung infrastruktur stabil dan struktur industri sehat dalam menopang pertumbuhan ekonomi.



