Chapnews – Nasional – Menteri Lingkungan Hidup (MenLH) Hanif Faisol Nurofiq melakukan inspeksi mendadak ke lokasi gudang bahan kimia yang hangus terbakar di kawasan Taman Tekno, Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Jumat (13/2) pagi. Kunjungan ini tidak hanya menyoroti sisa-sisa kebakaran, tetapi juga mengungkap fakta mengejutkan: ketiadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di fasilitas tersebut, sebuah "kesalahan fatal" yang berpotensi memperparah dampak lingkungan secara signifikan.
Dalam peninjauannya di lokasi gudang yang terbakar, Hanif menyatakan kekecewaannya. "Saya tidak melihat IPAL-nya. Jadi tidak bisa dikatakan buruk, karena memang tidak ada. Ini kesalahan fatal yang tidak boleh terjadi," tegasnya. Menurutnya, fasilitas pengolahan limbah seharusnya menjadi standar dasar dan wajib dimiliki oleh setiap pengelolaan bahan kimia untuk mencegah pencemaran.

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama aparat kepolisian kini tengah mendalami dugaan pelanggaran serius ini secara menyeluruh. Penyelidikan akan mencakup potensi pelanggaran terhadap ketentuan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Lebih lanjut, kasus ini dijadikan momentum penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi ulang sistem pengawasan dan persetujuan lingkungan, khususnya bagi industri yang menyimpan dan mengolah bahan kimia berbahaya. "Kasus ini kami tangani serius karena dampaknya tidak kecil dan menjadi pembelajaran bagi semua pihak," tambah Hanif, menekankan komitmen pemerintah.
Selain gudang, MenLH juga memantau kondisi sungai yang diduga kuat tercemar pascakebakaran. Penanganan pencemaran air, yang dicurigai berasal dari pestisida, telah dilakukan sejak awal kejadian. KLH bersama dinas terkait terus memonitor pergerakan aliran air yang tercemar. Hasil pemantauan sementara menunjukkan bahwa kontaminasi telah menyebar hingga wilayah Teluk Naga, setelah melewati aliran sungai yang terhubung dengan Sungai Cisadane.
Untuk mengukur sejauh mana dampak yang ditimbulkan, ratusan sampel air telah diambil dan saat ini masih dalam proses pengujian laboratorium. Tidak hanya kualitas air, pengujian juga dilakukan terhadap bentos, organisme yang hidup di dasar perairan. "Bentos menjadi bioindikator penting untuk melihat kelayakan sungai dan dampak pencemaran yang terjadi," jelas Hanif. Hasil komprehensif dari pengujian ini akan menjadi landasan utama dalam menentukan tingkat pencemaran serta merumuskan langkah-langkah pemulihan lingkungan yang efektif dan berkelanjutan.



