Chapnews – Nasional – Sosoknya mungkin tak setenar beberapa pahlawan nasional lainnya, namun kontribusi KH Fachruddin, atau yang akrab disapa Muhammad Jazuli, terhadap kemerdekaan dan pembentukan karakter bangsa tak terbantahkan. Begawan jurnalistik, pembela jemaah haji, sekaligus arsitek kesadaran nasional, ia adalah Pahlawan Nasional yang diakui berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 162 Tahun 1964, meski tak pernah mengenyam pendidikan formal.
Lahir di Yogyakarta pada tahun 1890, Fachruddin muda menunjukkan kecerdasan otodidak yang luar biasa. Semangat perjuangannya membawanya melanglang buana dalam berbagai organisasi pergerakan. Dimulai dari keanggotaannya di Budi Utomo, ia kemudian bergabung dengan Sarekat Islam, hingga akhirnya menemukan wadah perjuangan yang paling sesuai dengan idealismenya di Muhammadiyah. Di organisasi ini, ia menjadi tokoh serba bisa yang mengemban berbagai tugas penting, mulai dari dakwah, pengelolaan taman pustaka, hingga pengajaran.

Salah satu misi paling heroik yang diemban KH Fachruddin terjadi pada tahun 1921. Ia diutus ke Mekkah selama delapan tahun untuk mengemban misi rahasia: menyelidiki dugaan perlakuan tidak adil yang kerap diterima jemaah haji asal Indonesia dari pejabat-pejabat di Tanah Suci. Kepedulian mendalam terhadap nasib umat ini mendorongnya untuk bertindak. Sekembalinya dari Mekkah, ia memprakarsai pembentukan Badan Penolong Haji, sebuah inisiatif nyata untuk melindungi dan membantu para calon jemaah haji Indonesia.
Tak hanya itu, kiprah internasionalnya juga tercatat ketika ia diutus sebagai wakil umat Islam Indonesia untuk menghadiri Konferensi Islam di Kairo, Mesir. Kehadirannya menegaskan posisi dan peran penting Indonesia dalam kancah umat Islam global. Di ranah domestik, KH Fachruddin juga merupakan salah satu pencetus berdirinya Majalah Suara Muhammadiyah. Media ini menjadi corong perjuangan dan platform vital bagi penyebaran gagasan-gagasan ilmiah, keagamaan, dan sosial yang progresif.
Dengan ketajaman penanya, KH Fachruddin menjadi salah satu tulang punggung redaksi Suara Muhammadiyah. Melalui artikel-artikelnya, ia membahas berbagai isu relevan, mulai dari sejarah Islam, pemikiran ilmiah, pendidikan, hingga keadilan sosial. Tulisannya tidak hanya berlandaskan ilmu agama, tetapi juga diperkaya dengan wawasan keilmuan dari berbagai bidang, menggugah nalar dan semangat pembaca. Kontribusinya di Suara Muhammadiyah tak hanya menginformasikan, tetapi juga membentuk mentalitas kebangsaan dan nilai-nilai yang kelak menjadi landasan bagi gerakan kemerdekaan Indonesia. Ia bukan sekadar jurnalis, melainkan seorang visioner yang turut membangun kesadaran nasional di tengah tekanan kolonialisme Belanda.
Sayangnya, perjuangan KH Fachruddin harus berakhir. Menjelang Kongres Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1929, ia jatuh sakit dan wafat pada 28 Februari 1929 di kota kelahirannya. Meskipun usianya relatif singkat, jejak pengabdian dan pemikirannya mewariskan warisan tak terhapuskan bagi bangsa Indonesia, menjadikannya salah satu ulama dan cendekiawan muslim yang patut dikenang sebagai Pahlawan Nasional.



