Ads - After Header

Terkuak! 5 Sumber Minyak RI di Tengah Gejolak Timur Tengah

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Indonesia semakin memperdalam ketergantungan pasokan minyaknya dari kawasan Timur Tengah, sebuah fakta yang kini menjadi sorotan tajam di tengah eskalasi konflik regional. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan signifikan pada nilai impor minyak dan gas (migas) nasional, mencapai USD683,3 juta atau naik 27,52%. Dari angka tersebut, lima negara di jantung Timur Tengah mendominasi sebagai pemasok utama, memicu kekhawatiran di tengah ketidakpastian geopolitik.

Menurut rilis BPS pada Selasa, 3 Maret 2026, peningkatan impor migas ini sebagian besar didorong oleh melonjaknya pembelian minyak mentah yang mencapai USD652,7 juta, meroket 118,45% dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, impor hasil minyak juga mengalami kenaikan sebesar USD30,6 juta atau 1,58%. Angka-angka ini menggarisbawahi kebutuhan Indonesia akan energi yang terus meningkat, yang sebagian besar dipenuhi dari wilayah yang kini bergejolak.

Terkuak! 5 Sumber Minyak RI di Tengah Gejolak Timur Tengah
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Berikut adalah daftar lima negara Timur Tengah yang menjadi tulang punggung pasokan minyak Indonesia, beserta kontribusi mereka:

  1. Arab Saudi: Dengan nilai impor mencapai USD267,4 juta, Kerajaan Arab Saudi memimpin daftar, menyumbang 8,44% dari total impor migas nasional.
  2. Uni Emirat Arab (UEA): Menyusul di posisi kedua, UEA memasok minyak senilai USD200,6 juta, atau sekitar 6,34% dari keseluruhan impor.
  3. Mesir: Negara di persimpangan benua ini memberikan kontribusi sebesar USD73,4 juta, merepresentasikan 2,32% dari total impor migas.
  4. Oman: Dengan angka USD67,9 juta, Oman turut berperan penting, menyumbang sekitar 2,14%.
  5. Qatar: Melengkapi daftar, Qatar tercatat dengan nilai impor USD1,8 juta.

Ketergantungan pada sumber-sumber impor dari kawasan Timur Tengah ini menjadi perhatian serius, terutama mengingat gejolak geopolitik yang sedang berlangsung. Konflik yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di wilayah tersebut menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas pasokan global.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menyoroti risiko utama dari konflik ini adalah potensi terganggunya pasokan minyak dunia. Menurut Rizal, posisi geografis Iran yang berada di Teluk Persia dan berdekatan dengan Selat Hormuz sangat krusial. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur maritim vital yang dilalui oleh sekitar seperlima perdagangan minyak global.

Ia menegaskan, "Yang pasti dari konflik ini, risiko gangguan pasokan minyak menjadi paling penting. Iran berada di Teluk Persia dan dekat Selat Hormuz, jalur di mana seperlima perdagangan minyak dunia dilalui. Jadi, resikonya tentu harga minyak akan naik," seperti dikutip dari chapnews.id. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada negara-negara di kawasan tersebut, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan harga minyak global yang dapat membebani perekonomian Indonesia.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer