Ads - After Header

Pahlawan Terlupakan: Ulama Sukabumi Penggagas Bangsa!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Sosok Kiai Haji Ahmad Sanusi, ulama kharismatik asal Sukabumi, Jawa Barat, kini telah diabadikan sebagai Pahlawan Nasional. Namun, jauh sebelum pengakuan resmi pada 7 November 2022, pemikirannya telah mengukir jejak kemandirian bangsa. Sebuah gagasan revolusioner yang ia suarakan: "Bangsa bumiputera tidak bergantung kepada bangsa asing," menjadi semangat yang membara, bahkan saat ia duduk sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Visi kemandirian ini bukan sekadar retorika, melainkan termaktub jelas dalam karya monumentalnya, Nahratud’dhargam. Pengabdiannya yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia akhirnya diganjar penghargaan tertinggi oleh negara. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) nomor 96/TK/2022 pada 7 November 2022, Kiai Haji Ahmad Sanusi resmi menyandang gelar Pahlawan Nasional.

Pahlawan Terlupakan: Ulama Sukabumi Penggagas Bangsa!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Ironisnya, di tengah gemuruh sejarah perjuangan, nama Kiai Haji Ahmad Sanusi kerap luput dari sorotan utama, bahkan jika dibandingkan dengan Kiai Haji Zainal Mustofa dari Singaparna yang dikenal karena pemberontakannya terhadap Jepang. Namun, akademisi muslim Yayan Suryana dalam bukunya Tradisionalisme dan Modernisme Islam (2013) menegaskan bahwa Sanusi adalah salah satu tokoh pembaharu Islam di Indonesia, sejajar dengan HOS Cokroaminoto, Agus Salim, dan Abdul Muis. Bahkan, pemerintah pendudukan Jepang sendiri mencatat namanya sebagai salah satu tokoh terkemuka di Jawa, sebuah pengakuan yang tak bisa dianggap remeh.

Lahir di Kabupaten Sukabumi pada 18 September 1888, Ahmad Sanusi adalah putra ketiga dari delapan bersaudara pasangan KH Abdurrahim dan Empok, pendiri Pesantren Cantayan. Sejak usia belia, kecerdasannya sudah terlihat; ia telah menjadi seorang Hafidz Al-Qur’an pada usia 12 tahun. Perjalanan spiritual dan intelektualnya semakin mendalam ketika pada tahun 1910, setelah menikah, ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Mekah selama lima tahun. Di Tanah Suci, ia berinteraksi dengan ulama-ulama progresif seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Sayid Rasyid Ridho, serta memperluas jaringannya dengan bergabung dalam Partai Syarekat Islam Indonesia.

Sekembalinya dari Mekah pada tahun 1915, Kiai Sanusi mengabdikan diri sebagai guru di Pesantren Cantayan selama enam tahun, sebelum kemudian mendirikan Pesantren Genteng. Namun, jiwa patriotiknya tak hanya terpanggil di ranah keagamaan. Ia menyadari bahwa perjuangan untuk agama tak bisa dipisahkan dari perjuangan untuk kemerdekaan bangsa, terutama di masa-masa sulit pendudukan Belanda.

Kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda terhadap kedalaman ilmu dan luasnya jaringan aktivitas Kiai Sanusi berujung pada pengasingannya ke Batavia Centrum pada tahun 1927. Namun, pengasingan tak memadamkan semangatnya. Justru di masa itu, melalui majalah Hidjatoel Islamijjah yang ia kelola, ia secara revolusioner mengganti sebutan ‘Hindia Nederland’ menjadi ‘Indonesia’ – sebuah langkah berani yang menanamkan benih identitas nasional. Di bidang sosial-keagamaan, ia mendirikan Al Ittihadijatoel Islamiyah yang kemudian berevolusi menjadi Persatoean Oemat Islam Indonesia (POII). Organisasi ini lalu berfusi dengan Persatoean Oemat Islam (POI) bentukan KH Abdul Salim, melahirkan Persatuan Umat Islam (PUI) yang kita kenal hingga kini.

Kontribusinya dalam perjuangan kemerdekaan tak berhenti di situ. Kiai Sanusi aktif terlibat dalam Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah lembaga krusial dalam perumusan dasar negara. Tak hanya itu, ia juga menjadi motor penggerak pembentukan Pembela Tanah Air (PETA) di Karesidenan Bogor, Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Sukabumi, dan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) di Sukabumi, menunjukkan perannya yang multidimensional dalam mempersiapkan kemerdekaan dan menjaga keamanan pasca-proklamasi.

Kiai Haji Ahmad Sanusi menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1950, di usia 61 tahun. Namun, warisan perjuangan dan pemikirannya tetap hidup. Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, Pemerintah Sukabumi mengabadikan namanya pada salah satu ruas jalan penting, yang menghubungkan Jalan Cigunung dengan Jalan Degung, memastikan bahwa nama pahlawan ini tak akan lekang oleh waktu. Kisah Kiai Haji Ahmad Sanusi adalah pengingat abadi akan peran sentral ulama dalam membentuk fondasi dan identitas bangsa Indonesia.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer