Ads - After Header

Mahaguru Bangsa: Api Jihad KH Hasyim Asy’ari Menggema!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Nasional – Di tengah hiruk-pikuk perdebatan tentang nilai gelar akademik di era modern, kisah seorang ulama besar tetap bersinar terang sebagai teladan keilmuan dan kerendahan hati. Dialah Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari (1871-1947), pendiri Nahdlatul Ulama (NU), sosok yang tak hanya menyandang gelar ‘Mahaguru’ secara tulus dari umat, namun juga mengukir sejarah sebagai pahlawan bangsa lewat fatwa Resolusi Jihad 1945 yang heroik.

Gelar ‘Hadratussyaikh’, yang berarti Tuan Guru Besar atau Mahaguru, bukanlah predikat yang diperoleh dengan mudah atau dicari-cari. Menurut Abror Rosyidin, seorang peneliti dari Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asy’ari, gelar ini merupakan pengakuan tulus dari masyarakat atas kedalaman ilmu dan kemuliaan akhlak beliau. "Beliau sendiri tidak pernah mengharapkan gelar itu, melainkan umatlah yang menyematkannya," ujar Abror, sebagaimana dikutip dari laman resmi Pesantren Tebuireng. Ini menjadi cerminan ketawadukan KH Hasyim, sebuah sifat yang selalu ditekankan bagi setiap nahdliyin sejati: tidak gila hormat, melainkan senantiasa rendah hati.

Mahaguru Bangsa: Api Jihad KH Hasyim Asy'ari Menggema!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Peran sentral KH Hasyim tak hanya terbatas pada ranah keagamaan. Di tengah cengkeraman kolonialisme, beliau tampil sebagai motor penggerak perjuangan kemerdekaan, puncaknya melalui Resolusi Jihad 1945. Atas dedikasinya yang tak terhingga, negara menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964. Lahir di Jombang pada tahun 1871, Hasyim tumbuh dalam lingkungan keluarga kiai yang kental dengan tradisi keilmuan Islam.

Sejak usia dini, bakat dan kecerdasan Hasyim dalam mendalami ilmu agama sudah terlihat jelas. Ia tak hanya menimba ilmu dari orang tuanya, melainkan juga berkelana ke berbagai pesantren terkemuka di Jawa. Perjalanan spiritual dan keilmuannya berlanjut hingga ke Tanah Suci Makkah, tempat ia bermukim dan menunaikan ibadah haji. Di sana, Hasyim berguru kepada sejumlah ulama kaliber dunia, termasuk Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Muhammad Salih al-Samarqnadi, Syeikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Thahir al-Ja’fari, dan Syaikh Muhammad Mahfuzh al-Tarmasi. Kehebatannya diakui hingga ia dipercaya menjadi pengajar di Masjidil Haram, bahkan menyandang gelar kehormatan Syaikhul Haram.

Kembali ke tanah air, Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang pada tahun 1899 Masehi (1317 Hijriah). Pesantren ini tumbuh menjadi pusat pendidikan Islam yang sangat berpengaruh, membentuk karakter dan keilmuan banyak kiai di Jawa dan Sumatra. Dari Tebuireng, lahir pula ulama dan pemimpin bangsa terkemuka, termasuk santrinya KH Wahab Hasbullah yang kemudian turut mendirikan NU, putranya KH Wahid Hasyim, hingga cucunya, Abdurrahman Wahid, Presiden keempat Republik Indonesia. Dengan restu dari gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari bersama para koleganya secara resmi mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926, sebuah organisasi yang hingga kini menjadi pilar penting umat Islam di Indonesia.

Di era penjajahan Belanda, jiwa kepemimpinan KH

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer