Chapnews – Ekonomi – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 menghadapi ancaman serius di tengah lonjakan harga minyak dunia yang terus terjadi. Namun, pakar menilai ada kunci strategis untuk menekan potensi pelebaran defisit tersebut: peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, menyoroti langkah ini sebagai kunci potensial untuk menambah penerimaan negara dan menstabilkan fiskal.
Menurut Komaidi, sensitivitas fiskal Indonesia terhadap fluktuasi harga minyak sangat tinggi, terutama karena status negara ini sebagai net importir minyak. Ia merinci, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) sebesar USD1 per barel selama satu tahun anggaran berpotensi memperlebar defisit APBN hingga sekitar Rp6,80 triliun.

"Kenaikan harga minyak memang meningkatkan pendapatan negara dari sektor hulu migas sekitar Rp3,50 triliun. Namun di sisi lain, belanja negara juga naik sekitar Rp10,30 triliun dalam satu tahun anggaran," ujar Komaidi, seperti dikutip dari chapnews.id, Sabtu (14/3/2026).
Dengan demikian, secara neto, kenaikan harga minyak justru memberikan tekanan signifikan terhadap fiskal negara. Mengacu pada asumsi ICP dalam APBN 2026 sebesar USD70 per barel, lonjakan harga minyak bisa berdampak masif. Jika rata-rata ICP sepanjang 2026 berada di kisaran USD90 per barel, tambahan defisit APBN diperkirakan mencapai sekitar Rp136 triliun. Bahkan, apabila rata-rata harga minyak menyentuh USD100 per barel hingga akhir tahun, potensi tambahan defisit bisa melonjak hingga sekitar Rp204 triliun.
Namun, Komaidi optimis bahwa tekanan defisit tersebut masih dapat diimbangi. Kuncinya, menurutnya, terletak pada optimalisasi peningkatan produksi migas nasional. Ia menjelaskan, setiap peningkatan lifting minyak sebesar 10.000 barel setara minyak per hari (boepd) selama satu tahun anggaran mampu mendongkrak penerimaan negara dari usaha hulu minyak sekitar Rp1,80 triliun. Sementara itu, peningkatan lifting gas sebesar 10.000 boepd dapat menambah penerimaan negara dari hulu gas sekitar Rp1,30 triliun. Strategi peningkatan produksi migas ini, menurut Komaidi, menjadi sangat krusial untuk menjaga stabilitas fiskal negara di tengah gejolak harga komoditas global yang tak menentu.



