Chapnews – Ekonomi – JAKARTA – Potret ketimpangan ekonomi di Indonesia semakin jelas terlihat dari struktur simpanan masyarakat di perbankan umum. Data terbaru dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan sebuah fakta mencengangkan: kelompok nasabah dengan saldo di atas Rp5 miliar kini mendominasi lebih dari separuh total Dana Pihak Ketiga (DPK) nasional. Ini mengindikasikan jurang pemisah antara si kaya dan masyarakat biasa kian menganga.
Hingga akhir Januari 2026, total dana yang tersimpan di bank umum mencapai angka fantastis Rp10.115,93 triliun. Dari jumlah tersebut, simpanan yang masuk kategori tertinggi, yakni rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar, menyumbang Rp5.786,83 triliun.

"Kelompok nominal tertinggi, yaitu rekening dengan saldo lebih dari Rp5 miliar, mencapai Rp5.786,83 triliun. Porsinya merupakan 57,69 persen atau lebih dari separuh total Simpanan Pihak Ketiga," jelas Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky, pada Sabtu (28/3/2026), seperti dikutip chapnews.id.
Disparitas ini semakin mencolok jika melihat perbandingan jumlah rekening. Nasabah dari kategori super kaya (tier tujuh) ini hanya berjumlah sekitar 153,24 ribu rekening. Angka ini sangat kecil, hanya 0,02 persen dari total 671,40 juta rekening yang ada. Namun, rata-rata saldo per rekening di kelompok ini luar biasa tinggi, mencapai Rp37,76 miliar.
Di sisi lain, masyarakat dengan simpanan kecil, yaitu saldo di bawah Rp100 juta, mendominasi jumlah rekening hingga 98,91 persen, atau sekitar 664,08 juta rekening. Ironisnya, total nilai simpanan mereka secara keseluruhan hanya Rp1.116,31 triliun. Jumlah ini hanya setara dengan 11,13 persen dari total DPK nasional, dengan rata-rata saldo per rekening yang sangat kontras, yakni hanya Rp1,68 juta.
Tren pertumbuhan simpanan selama enam tahun terakhir (Januari 2020 hingga Januari 2026) juga mempertegas kesenjangan ini. Simpanan dari kalangan atas tumbuh sangat pesat, mencapai 91,93 persen. Sementara itu, simpanan kelas menengah hanya mencatat pertumbuhan 34,22 persen. Kenaikan paling lambat dialami oleh simpanan kelas bawah, yang hanya tumbuh 29,83 persen. Angka-angka ini secara gamblang menunjukkan bahwa kekayaan di Indonesia semakin terkonsentrasi pada segelintir orang, sementara mayoritas masyarakat berjuang dengan pertumbuhan simpanan yang jauh lebih lambat.


