Chapnews – Nasional – Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra kini tengah mengintensifkan upaya pembersihan endapan lumpur dan pemulihan area persawahan. Langkah strategis ini difokuskan pada wilayah-wilayah yang paling parah terdampak banjir dan tanah longsor di tiga provinsi: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Pembersihan material lumpur menjadi prioritas utama demi mengembalikan mobilitas warga serta memastikan seluruh fasilitas publik dapat berfungsi normal kembali. Di sisi lain, rehabilitasi lahan pertanian vital untuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan mempercepat pemulihan ekonomi para petani lokal. Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa penanganan lumpur merupakan elemen krusial dalam percepatan pemulihan di dataran rendah. "Lumpur ini menjadi problem yang paling utama di lowland (dataran rendah). Kita sudah mencatat tim ini merekap di mana saja titik-titiknya," ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima chapnews.id pada Sabtu (28/3).

Berdasarkan laporan perkembangan hingga Sabtu (28/3), Satgas PRR mencatat kemajuan signifikan dalam pengerjaan fisik di ketiga provinsi. Provinsi Aceh, sebagai wilayah dengan jumlah titik penanganan terbanyak, menargetkan 476 lokasi pembersihan. Dari jumlah tersebut, 396 lokasi telah berhasil dibersihkan sepenuhnya dari puing-puing sisa bencana, sementara 80 lokasi lainnya masih dalam tahap pengerjaan intensif.
Situasi serupa terlihat di Sumatra Utara, di mana tim Satgas menargetkan pembersihan di 24 lokasi terdampak. Sebanyak 20 titik di antaranya telah tuntas ditangani, dengan empat lokasi sisanya masih dalam proses penyelesaian. Sementara itu, Provinsi Sumatra Barat menunjukkan capaian luar biasa dengan seluruh 29 lokasi yang menjadi sasaran pembersihan lumpur kini telah rampung 100 persen.
Paralel dengan upaya pembersihan permukiman, Satgas PRR juga gencar mengejar target rehabilitasi lahan sawah seluas 42.702 hektare. Hingga kini, sekitar 991 hektare area persawahan telah berhasil dipulihkan dan siap kembali produktif untuk aktivitas pertanian.
Data terbaru merinci bahwa masih ada 5.333 hektare lahan sawah yang sedang dalam proses penanganan teknis. Di Aceh, 42 hektare sawah telah pulih dari total target 31.464 hektare. Sumatra Utara mencatat pemulihan 170 hektare lahan dari total sasaran 7.336 hektare. Sedangkan Sumatra Barat menunjukkan progres paling signifikan dalam pemulihan sawah, dengan 779 hektare berhasil direhabilitasi dari target 3.902 hektare.
Tito Karnavian menambahkan, pemerintah telah memetakan ratusan titik koordinat terdampak, memastikan setiap intervensi dilakukan secara tepat sasaran dan efisien. "Kita memiliki titiknya, jumlahnya lebih kurang 445 di tiga provinsi. Yang sudah diselesaikan di Sumatra total semuanya itu lebih kurang 84 persen, tinggal 16 persen lagi," pungkasnya. Selain fokus pada lahan dan permukiman, Satgas PRR juga tengah mengupayakan normalisasi aliran sungai di ketiga provinsi. Banyak badan sungai mengalami pendangkalan parah akibat sedimentasi lumpur yang terbawa banjir. Normalisasi sungai ini dianggap sangat krusial untuk meminimalkan risiko banjir susulan di masa depan, sekaligus memastikan pasokan irigasi yang memadai bagi lahan sawah dan tambak milik warga.



