Chapnews – Ekonomi – Upaya meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani kelapa sawit di Indonesia terus digalakkan. Para petani di berbagai daerah menghadapi serangkaian tantangan yang kompleks, tidak hanya sebatas fluktuasi harga komoditas global, tetapi juga kendala teknis krusial di lapangan. Mulai dari risiko penggunaan bibit berkualitas rendah, kesalahan dalam pola pemupukan, hingga serangan hama dan penyakit yang tak terkendali, semua faktor ini secara signifikan memengaruhi hasil panen dan keberlanjutan kebun mereka.
Namun, secercah harapan muncul melalui program pelatihan intensif. Salah satu contoh nyata adalah kisah Maijan, petani sawit dari Desa Suak Putat, Sekernan, Muaro Jambi, Jambi. Kini, ia menerapkan sistem pemupukan yang jauh lebih terstruktur dan ilmiah di kebunnya. Perubahan signifikan dalam pengelolaan kebun Maijan ini terjadi setelah ia mengikuti program Petani Berkualitas dan Sejahtera (Perkasa) yang diinisiasi oleh PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG). Program ini telah menyasar seluruh perusahaan anak TAPG di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

Melalui pelatihan Perkasa, Maijan mengaku mendapatkan pemahaman mendalam tentang pentingnya praktik agronomi yang tepat. Ia belajar mulai dari pemilihan jenis pupuk yang sesuai dengan kebutuhan tanaman, penentuan dosis yang akurat, hingga waktu aplikasi yang paling efektif untuk mendukung pertumbuhan optimal tanaman sawit. Sebelumnya, Maijan mengakui bahwa ia hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun tanpa dasar pengetahuan ilmiah yang memadai, seringkali berujung pada hasil yang kurang maksimal.
"Dulu saya kira memupuk itu gampang, tinggal tebar saja. Ternyata, cara kita memupuk sangat menentukan sehat tidaknya tanaman sawit. Kalau pemupukan dilakukan dengan benar, hasilnya memang akan sangat optimal," ungkap Maijan, seperti dikutip dari keterangan tertulis TAPG pada Rabu (1/4/2026). Ia menambahkan, "Hal ini baru saya ketahui saat mengikuti pelatihan Perkasa di PT Brahma Binabakti, yang sangat bermanfaat bagi kami para petani. Kami memperoleh banyak ilmu tentang pembibitan, perawatan, hingga teknik panen yang bisa langsung kami praktikkan di kebun." Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas kebun petani, tetapi juga mendorong kesejahteraan yang berkelanjutan, sejalan dengan filosofi pendiri perusahaan, TP Rachmat, untuk menjadi perusahaan yang lahir dari, oleh, dan untuk Indonesia.
Program pelatihan Perkasa dirancang dengan pendekatan yang seimbang, memadukan 40% teori dasar dengan 60% praktik langsung di lapangan. Pelatihan intensif selama tiga hari ini bertujuan agar para petani peserta dapat segera mempraktikkan cara merawat tanaman secara presisi. Dengan demikian, mereka diharapkan pulang dengan bekal pengetahuan dan kepercayaan diri untuk menjadi ahli di kebun mereka sendiri, membawa perubahan positif bagi masa depan perkebunan sawit di Indonesia.


