Ads - After Header

Purbaya Gagas Pajak Selat Malaka, Potensi Cuan Fantastis!

Ahmad Dewatara

Purbaya Gagas Pajak Selat Malaka, Potensi Cuan Fantastis!

Chapnews – Ekonomi – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru-baru ini melontarkan sebuah gagasan yang berani dan berpotensi mengubah peta pendapatan negara: pengenaan pajak bagi setiap kapal yang melintasi jalur vital Selat Malaka. Ide ini, yang terinspirasi dari kebijakan Iran di Selat Hormuz, diharapkan dapat mengoptimalkan posisi strategis Indonesia di kancah perdagangan global dan membuka keran pemasukan baru yang signifikan.

Dalam sebuah simposium PT SMI di Jakarta pada Rabu (22/4/2026), Purbaya menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara yang berada di jalur perdagangan dan energi dunia, memiliki potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menyoroti bagaimana Selat Malaka, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, belum memberikan kontribusi pendapatan yang berarti bagi negara, berbeda jauh dengan skema yang diterapkan Iran di Selat Hormuz. Iran dilaporkan memungut biaya transit hingga USD2 juta (sekitar Rp33-34 miliar) per kapal yang melintas, terutama di tengah ketegangan geopolitik.

Purbaya Gagas Pajak Selat Malaka, Potensi Cuan Fantastis!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Dan seperti arahan Presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran, kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia," ujar Purbaya, mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya Indonesia menyadari kekuatan posisinya dalam peta perdagangan dan energi global.

Purbaya meyakini, jika skema pengenaan biaya atau "charge" ini diterapkan, Selat Malaka dapat menjadi sumber pemasukan baru yang substansial. Ia mengusulkan agar pendapatan tersebut dibagi secara adil di antara tiga negara pantai yang berbatasan langsung dengan selat tersebut: Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Pembagian ini, lanjut Purbaya, dapat disesuaikan secara proporsional berdasarkan panjang wilayah perairan masing-masing negara di sepanjang selat. Secara geografis, Indonesia dan Malaysia memiliki cakupan area yang jauh lebih luas dibandingkan Singapura, sehingga berpotensi mendapatkan porsi yang lebih besar.

"Kapal lewat Selat Malaka enggak kita charge ya, sekarang Iran meng-charge kapal lewat Selat Hormuz, kalau kita bagi tiga Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan," pungkas Purbaya, menyoroti potensi keuntungan yang bisa diraih dan menjadi pemasukan baru bagi kas negara. Gagasan ini diharapkan dapat memicu diskusi lebih lanjut mengenai implementasi dan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer