Chapnews – Nasional – Sebuah gelombang solidaritas luar biasa menyapu Sumatra, dengan Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar) secara kolektif mengucurkan dana hibah fantastis senilai Rp287 miliar. Bantuan masif ini ditujukan untuk mempercepat pemulihan Aceh yang masih berjuang pascabencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut.
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra mencatat bahwa kontribusi signifikan ini berasal dari pemerintah daerah di kedua provinsi. Skema hibah antardaerah ini memanfaatkan pengembalian Transfer ke Daerah (TKD) yang dialokasikan khusus untuk mendukung upaya rekonstruksi dan rehabilitasi di wilayah terdampak.

Sebanyak 12 pemerintah daerah di Sumbar turut berpartisipasi aktif dalam penyaluran hibah, menyumbang total Rp27 miliar. Kota Padang memimpin dengan Rp5 miliar, disusul Kota Payakumbuh dan Kota Padang Panjang masing-masing Rp3 miliar, sementara daerah lain berkontribusi antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar. Dukungan ini melengkapi bantuan dari 8 pemerintah daerah di Sumut yang sebelumnya telah menyalurkan hibah senilai Rp260 miliar. Dengan demikian, akumulasi bantuan dari kedua provinsi ini mencapai Rp287 miliar, yang akan disalurkan langsung ke wilayah-wilayah di Aceh yang paling membutuhkan.
Muhammad Tito Karnavian, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, menegaskan bahwa mekanisme hibah ini dirancang untuk memastikan bantuan dapat segera dimanfaatkan oleh daerah penerima. Dalam sebuah pernyataan yang diterima chapnews.id, Tito menjelaskan peran satgas adalah sebagai penghubung dan pengawal proses penyaluran.
"Kami hanya menghubungkan hibah antar daerah, sehingga bantuan ini bisa langsung dirasakan. Mekanisme kami kawal, dari rekening ke rekening, agar tepat sasaran dan cepat dimanfaatkan oleh daerah yang membutuhkan," ujarnya. Tito menambahkan bahwa pemerintah pusat sebelumnya telah mengalokasikan dan mengembalikan TKD senilai Rp10,6 triliun kepada tiga provinsi terdampak, memberikan fleksibilitas fiskal bagi daerah yang kurang terdampak untuk membantu wilayah dengan kebutuhan pemulihan yang lebih besar.
Tito menyoroti bahwa sejumlah wilayah di Aceh masih menghadapi tantangan berat dalam proses pemulihan, termasuk risiko bencana susulan seperti banjir dan longsor yang masih perlu diantisipasi. Oleh karena itu, dukungan lintas daerah ini dinilai krusial untuk menjaga momentum dan keberlanjutan pemulihan.
"Total bantuan dari dua provinsi ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan Aceh. Ini adalah wujud nyata solidaritas dan gotong royong antardaerah dalam menghadapi bencana," pungkasnya.
Satgas PRR berkomitmen untuk mengawasi ketat proses penyaluran hibah, baik dari sisi administrasi maupun implementasi di lapangan, demi menjamin akuntabilitas dan efektivitas penggunaan anggaran. Kolaborasi antardaerah ini tidak hanya bertujuan mempercepat pemulihan di Aceh, tetapi juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan daerah dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.

