Langit Flores Mencekam: Dua Bandara Ditutup Total!
Chapnews – Nasional – Flores kembali dihadapkan pada ancaman alam. Aktivitas erupsi dua gunung berapi yang signifikan, yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ile Lewotolok, telah melumpuhkan aktivitas vital di Nusa Tenggara Timur (NTT). Demi menjamin keselamatan penerbangan dan penumpang, dua bandara utama di wilayah tersebut, Bandara Frans Seda Maumere dan Bandara Gewayantana Larantuka, terpaksa ditutup sementara.

Keputusan penutupan ini, yang merupakan kali kedua dalam sepekan terakhir bagi Bandara Frans Seda Maumere, menyebabkan gangguan serius pada jadwal penerbangan. Partahian Panjaitan, Kepala Bandar Udara Frans Seda Maumere, mengonfirmasi penutupan efektif mulai Sabtu (20/6) hingga Minggu (21/6) pukul 06.00 WITA. Akibatnya, sejumlah rute penerbangan, termasuk Wings Air tujuan Maumere-Kupang, Kupang-Maumere, dan Makassar-Maumere, terpaksa dibatalkan. Sebelumnya, bandara ini juga sempat ditutup pada Rabu hingga Kamis akibat lontaran abu vulkanik dari gunung yang sama.
Tak hanya Maumere, Bandar Udara Gewayantana Larantuka juga telah memberlakukan status penutupan sementara sejak Kamis lalu. Puguh Lukito, Kepala Bandara Gewayantana, menegaskan langkah penghentian operasi sementara ini dipicu oleh erupsi Gunung Ile Lewotolok serta dampak abu vulkanik dari Lewotobi Laki-laki. "Dengan status ‘Aerodrome Closed’ yang berlaku, belum ada kepastian jadwal pembukaan kembali," jelas Puguh kepada chapnews.id. Penumpang diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari maskapai penerbangan.
Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Gunung Ile Lewotolok tercatat mulai aktif sejak 18 Juni 2024, melontarkan kolom abu setinggi 300 meter berwarna putih hingga kelabu yang bergerak ke arah barat. Saat ini, statusnya berada di Level II (Waspada). Sementara itu, Gunung Lewotobi Laki-laki menunjukkan aktivitas yang lebih intens dengan status Level III (Siaga), di mana erupsi terus berlangsung secara signifikan.
PVMBG secara tegas mengimbau warga untuk tidak mendekati area dalam radius 5 kilometer dari puncak kedua gunung berapi tersebut. Masyarakat yang bermukim di sekitar lereng juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko lahar hujan, khususnya saat terjadi curah hujan deras, guna menghindari potensi bahaya yang ditimbulkan.

