Ads - After Header

Rp1.700 T Terancam? Sektor Logistik Hadapi Badai Global!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Sektor logistik Indonesia, yang memberikan kontribusi fantastis hingga Rp1.700 triliun, kini berada di persimpangan jalan. Di tengah gejolak ekonomi global dan eskalasi ketegangan geopolitik, kelancaran arus perdagangan dunia menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasi ini menuntut adaptasi cepat dan kolaborasi erat dari seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas rantai pasok.

Direktur CKB Logistics, Iman Sjafei, menyoroti bagaimana dinamika geopolitik telah memicu volatilitas jalur perdagangan, yang secara langsung menghambat kelancaran distribusi barang. "Ketegangan geopolitik dunia telah menciptakan hambatan nyata. Melalui CKB Supply Chain Forum 2026, kami mengajak seluruh pihak berkolaborasi merumuskan solusi logistik yang tangguh, responsif, dan terintegrasi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima chapnews.id, Minggu (28/6/2026).

Rp1.700 T Terancam? Sektor Logistik Hadapi Badai Global!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

Forum CKB Supply Chain Forum (CSCF) 2026, yang mempertemukan berbagai perusahaan industri dan pelanggan, dirancang untuk membangun strategi adaptif. CKB Logistics, sebagai anak usaha PT ABM Investama Tbk (ABMM), tidak sendiri dalam upaya ini, melainkan menggandeng Supply Chain Indonesia (SCI) dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Sinergi ini menunjukkan keseriusan dalam menghadapi disrupsi rantai pasok global. Iman Sjafei menegaskan, "Sinergi ini mutlak diperlukan agar kita dapat memitigasi risiko, menghadapi berbagai skenario terburuk, dan memastikan roda distribusi tetap berputar lancar."

Lebih lanjut, Direktur Logistik dan Distribusi CKB Logistics, Ety Puspitasari, menekankan urgensi transformasi dalam manajemen rantai pasok industri strategis. Menurutnya, pendekatan operasional tidak lagi bisa berfokus semata pada efisiensi biaya (efficiency-driven), melainkan harus beralih mengutamakan ketangguhan (resilience-driven). "Pendekatan resilience-driven tidak dicapai hanya dengan menghindari gangguan secara mutlak, melainkan melalui desain jaringan operasional yang fleksibel dan kolaborasi erat di seluruh ekosistem logistik. Tujuannya agar pemulihan bisnis dapat berjalan jauh lebih cepat atau recover faster saat krisis terjadi," jelas Ety.

Untuk menaklukkan tantangan operasional ini, Ety memaparkan bahwa perusahaan harus mengimplementasikan manajemen risiko rantai pasok yang komprehensif. Ini berarti membangun kerangka kerja terintegrasi yang mencakup tata kelola risiko (risk governance), peningkatan visibilitas, fleksibilitas operasional, kolaborasi yang kuat, serta perbaikan berkelanjutan (continuous improvement). "Langkah nyatanya meliputi pemetaan risiko ujung-ke-ujung (end-to-end), penyusunan SOP kontingensi yang adaptif, hingga pemanfaatan teknologi Digital Control Tower demi mencapai tingkat visibilitas operasional yang tinggi," pungkas Ety, menegaskan komitmen sektor logistik dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer