Chapnews – Ekonomi – Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah strategis dengan rencana ambisius untuk mendirikan puluhan pabrik etanol baru di seluruh Indonesia. Inisiatif ini bertujuan ganda: mempercepat pengembangan bahan bakar E20, yakni bensin dengan campuran etanol 20 persen, serta memperkokoh kemandirian energi nasional di tengah gejolak global.
Tidak tanggung-tanggung, target pembangunan pabrik etanol mencapai 30 hingga 50 unit. Langkah ini didasari keyakinan Prabowo akan potensi besar Indonesia, yang telah terbukti mampu menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pembangunan di berbagai sektor vital, bahkan saat dunia dilanda ketidakpastian. Mengacu pada keberhasilan negara-negara seperti India dan Brasil dalam mengimplementasikan bahan bakar berbasis etanol, Prabowo optimis Indonesia mampu mencapai level yang sama, bahkan lebih.

Dalam beberapa kesempatan, termasuk saat Panen Raya Serentak di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, Presiden Prabowo menyoroti capaian signifikan yang telah diraih. Ia mengungkapkan, "Kita kemarin berhasil mulai produksi, mulai pembangunan blok gas, salah satu yang terbesar di kawasan kita, setelah 28 tahun mangkrak, kita hidupkan. Sebelumnya, kita berhasil menjadi negara pertama di dunia yang menghasilkan B50. Kita sekarang menghasilkan solar dari kelapa sawit." Keberhasilan ini, menurutnya, menjadi bukti nyata kemampuan bangsa dalam mengelola sumber daya dan teknologi.
Produksi B50 sendiri telah memberikan kontribusi besar dalam menekan angka impor solar, sekaligus menghemat devisa negara. Kini, fokus bergeser pada pengembangan bioetanol sebagai pilar kemandirian energi berikutnya. Indonesia, yang telah memulai penggunaan E10 (bensin dengan 10 persen campuran etanol), kini didorong untuk melompat lebih jauh ke E20. Prabowo menegaskan, dengan sumber daya dan inovasi yang dimiliki, target E20 bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah keniscayaan untuk masa depan energi Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

