Bromo Mencekam! Ratusan Hektar Ludes, Water Bombing Terhambat Kabut!
Terus merajalelanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo kini telah melahap area seluas 921,42 hektare. Angka ini diprediksi masih akan terus bertambah seiring dengan proses pendataan yang belum rampung, menyulitkan upaya pemadaman, terutama dari udara yang terkendala cuaca ekstrem.

Menurut laporan terbaru dari Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno, area terdampak kebakaran ini terus meluas. Meskipun demikian, Satriyo menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat insiden ini. Vegetasi yang menjadi korban keganasan api meliputi cemara gunung, mentigen, akasia, dan semak belukar, yang merupakan bagian penting dari ekosistem Bromo.
Personel gabungan di lapangan tengah memfokuskan upaya pemadaman di titik-titik konsentrasi api, khususnya dari kawasan Bukit Cinta hingga Seruni Point, termasuk wilayah Dingklik. Namun, medan yang terjal dan hembusan angin kencang menjadi rintangan serius bagi tim pemadam manual, mempercepat penyebaran api ke area lain.
Di sisi lain, operasi pengeboman air (water bombing) menggunakan tiga unit helikopter sempat terhenti. Cuaca yang berkabut tebal dan kepulan asap yang masif secara signifikan mengurangi visibilitas, membuat pilot kesulitan melakukan manuver dan menargetkan titik api. Meskipun demikian, pada Rabu (12/8), operasi udara berhasil menumpahkan total 74.000 liter air dalam 29 rit, menunjukkan dedikasi luar biasa di tengah tantangan.
Kebakaran yang menghanguskan sebagian keindahan Bromo ini pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Sebagai langkah antisipasi dan demi keamanan pengunjung serta kelancaran proses pemadaman, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) telah menutup seluruh akses wisata ke Gunung Bromo sejak Sabtu (8/8) malam hingga waktu yang belum ditentukan.


