Chapnews.id – Mimpi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki hunian layak di tengah hiruk-pikuk ibu kota kini semakin mendekati kenyataan. Perum Perumnas secara resmi mengumumkan rencana pembangunan 768 unit rumah subsidi yang dirancang khusus untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan dan tingginya biaya transportasi di wilayah Jabodetabek.
Yang membuat proyek ini istimewa adalah konsep Transit-Oriented Development (TOD) yang diusung. Artinya, hunian-hunian ini tidak dibangun di pinggiran kota yang jauh dari pusat aktivitas, melainkan terintegrasi langsung dengan akses transportasi publik. Konsep ini diharapkan mampu memangkas biaya hidup masyarakat secara signifikan.

Plt Direktur Utama Perum Perumnas, Imelda Alini Pohan, menekankan bahwa definisi "hunian terjangkau" bagi masyarakat kelas menengah ke bawah harus dilihat dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, harga rumah yang murah saja tidak cukup jika lokasi rumah tersebut justru menjauhkan penghuninya dari tempat kerja.
"Hunian yang terjangkau bagi MBR tidak cukup hanya diukur dari harga rumah. Lokasi, akses terhadap transportasi publik, serta biaya dan waktu perjalanan sehari-hari juga menentukan keterjangkauan yang sesungguhnya," ujar Imelda dalam keterangan resminya yang dikutip pada Rabu (23/9/2026).
Melalui pendekatan ini, Perumnas ingin memastikan bahwa masyarakat tidak hanya mampu membeli rumah, tetapi juga mampu menjalani gaya hidup yang efisien tanpa terbebani oleh biaya transportasi yang membengkak atau waktu tempuh yang melelahkan di jalan raya.
Secara mendetail, total 768 unit hunian subsidi ini akan tersebar di tiga lokasi strategis di kawasan TOD. Lokasi pertama adalah Samesta Mahata Tanjung Barat dengan ketersediaan sebanyak 256 unit. Lokasi kedua berada di kawasan Margonda sebanyak 182 unit, dan lokasi ketiga adalah Samesta Mahata Serpong yang menyediakan porsi terbesar yakni 330 unit.
Ketiga lokasi tersebut dipilih karena memiliki konektivitas yang sangat kuat dengan moda transportasi massal, seperti kereta api, yang menjadi urat nadi mobilitas warga Jabodetabek. Dengan adanya integrasi ini, penghuni nantinya dapat dengan mudah berpindah dari rumah menuju tempat kerja tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Menariknya, tingginya minat masyarakat terhadap konsep hunian seperti ini sudah terlihat sejak tahap awal. Pihak Perumnas mengungkapkan bahwa unit subsidi yang berlokasi di kawasan Margonda dan Tanjung Barat dilaporkan telah terserap habis oleh calon pembeli. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kebutuhan akan rumah murah yang dekat dengan akses transportasi publik sangatlah tinggi di wilayah perkotaan.
Langkah strategis Perumnas ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi masalah backlog perumahan di Indonesia, sekaligus menciptakan ekosistem perkotaan yang lebih tertata dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Melansir informasi dari chapnews.id, proyek ini menjadi angin segar bagi para pekerja urban yang mendambakan hunian berkualitas dengan harga yang tetap ramah di kantong.


