Chapnews.id – Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Jumat (24/9/2026). Mata uang garuda tersebut berhasil menguat sebesar 13 poin atau setara dengan 0,07 persen, sehingga berakhir di level Rp17.903 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah dinamika pasar global yang penuh dengan ketidakpastian, baik dari sisi geopolitik maupun kebijakan ekonomi Amerika Serikat.
Analis pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal yang cukup signifikan. Salah satu faktor utama yang diperhatikan pasar adalah upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Saat ini, para negosiator dari kedua negara tengah melakukan pertemuan intensif di New York untuk mencari jalan keluar bertahap guna meredakan konflik yang telah berlangsung lama.

Dalam risetnya, Ibrahim menyebutkan bahwa fokus utama negosiasi ini mencakup langkah Teheran untuk membuka kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz, serta komitmen Washington untuk mencabut blokade ekonomi terhadap Iran. Sebelumnya, Presiden Iran sempat menyatakan bahwa penyelesaian konflik secara total sangat bergantung pada langkah-langkah yang akan diambil oleh pihak Amerika Serikat.
Namun, ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda. Laporan dari koalisi pimpinan Arab Saudi menyebutkan bahwa mereka berhasil mencegat enam rudal balistik yang ditembakkan oleh kelompok Houthi Yaman. Serangan yang didukung oleh Iran tersebut menyasar provinsi Taif di wilayah selatan serta kawasan Yanbu di tepi Laut Merah, namun berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan Saudi.
Di sisi lain, angin segar datang dari sektor perdagangan global. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi adanya kesepakatan antara Washington dan Beijing untuk memperpanjang masa gencatan senjata perdagangan hingga 10 Januari 2027. Pertemuan strategis antara Presiden Trump dan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, juga menjadi sorotan utama. Kunjungan perdana Xi Jinping ke Washington setelah lebih dari satu dekade ini menempatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai topik pembahasan yang paling krusial di antara kedua pemimpin dunia tersebut.
Meskipun ada sentimen positif dari perdagangan, pasar tetap waspada terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Pejabat Federal Reserve memberikan sinyal kuat mengenai kemungkinan adanya kenaikan suku bunga lanjutan. Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, menegaskan pentingnya menjaga inflasi agar kembali ke tingkat target secara tepat waktu. Ia bahkan menyebutkan bahwa kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun adalah hal yang wajar. Senada dengan hal tersebut, Presiden The Fed wilayah Cleveland, Beth Hammack, memperingatkan bahwa inflasi yang bertahan tinggi akan mempersulit upaya pengendalian ekonomi di masa depan.
Selain faktor suku bunga, kondisi ekonomi domestik AS juga menunjukkan ketangguhan. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) S&P Global AS mencatat kenaikan tak terduga ke level tertinggi dalam lima tahun, yakni di angka 58,4 pada bulan September. Selain itu, data klaim awal tunjangan pengangguran AS juga turun menjadi 197.000, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memprediksi angka 201.000. Rangkaian data ekonomi yang kuat ini menjadi faktor penentu pergerakan nilai tukar di pasar global, termasuk pengaruhnya terhadap stabilitas rupiah.


