Chapnews.id – Kabar mengejutkan datang dari peta transportasi dunia. Jakarta, yang selama ini kerap dicap sebagai kota dengan tingkat kemacetan yang menguras energi, ternyata mampu menunjukkan taringnya di kancah internasional. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan sebuah fakta menarik bahwa sistem transportasi Jakarta kini memiliki peringkat yang lebih baik dibandingkan kota metropolitan dunia, New York.
Dalam sebuah kesempatan wawancara eksklusif di Balai Kota, Pramono membeberkan bahwa Jakarta saat ini menempati urutan ke-17 dalam peringkat transportasi dunia. Angka ini menempatkan Jakarta jauh di atas New York yang posisinya justru merosot di bawah Jakarta. Fenomena ini bahkan sempat membuat Wali Kota New York, Zohran Mamdani, merasa terkejut dan bertanya-tanya mengenai rahasia di balik transformasi besar-besaran yang dilakukan Jakarta.

"Yang membuat Mayor Mamdani kaget adalah secara ranking Jakarta juga jauh lebih baik daripada New York dalam hal transportasi. Kita ranking 17 dunia, New York jauh di bawah," ujar Pramono dengan penuh optimisme.
Pramono menjelaskan bahwa kunci utama dari keberhasilan ini adalah integrasi transportasi yang tidak lagi hanya berfokus pada wilayah administratif Jakarta saja. Jika dahulu pengaturan transportasi bersifat sangat terbatas di dalam kota, kini paradigma tersebut telah berubah total. Jakarta kini menerapkan konsep konektivitas lintas wilayah yang mencakup area penyangga seperti Bekasi, Depok, Bogor, Tangerang, hingga Tangerang Selatan.
Salah satu pilar utama dalam strategi ini adalah penguatan layanan Transjabodetabek. Melalui koneksi bus Transjakarta yang menjangkau daerah-daerah penyangga, arus pergerakan orang menjadi lebih teratur dan efisien, yang secara langsung memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kemacetan di jalan raya.
Selain bus, keberadaan moda transportasi berbasis rel seperti Commuter Line (KRL) juga menjadi penyelamat bagi mobilitas warga. Pramono memberikan contoh nyata bagaimana transportasi publik mampu mengubah pengalaman masyarakat, terutama saat menghadiri acara besar seperti konser musik. Ia menyebutkan bahwa penonton konser kini tidak lagi dihantui ketakutan akan kemacetan saat pulang ke rumah.
"Orang senang karena rata-rata sekarang kalau nonton konser, mereka bisa pulang ke kediaman masing-masing hanya dalam waktu 25 hingga 30 menit menggunakan KRL," jelasnya. Ia mencontohkan integrasi antara Jakarta International Stadium (JIS) dengan area parkir di Ancol yang terhubung dengan jalur kereta, membuat perjalanan menjadi sangat praktis.
Tak berhenti di situ, pemerintah DKI Jakarta terus berupaya memperluas jaringan transportasi massal melalui pengembangan MRT, LRT, Minitrans, hingga Jaklingko. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah memperpanjang rute LRT Kelapa Gading yang sebelumnya hanya sampai Velodrome menjadi hingga Manggarai. Langkah ini diambil agar jalur tersebut memiliki nilai guna yang lebih luas dan tidak terisolasi.
Ke depan, ambisi pembangunan transportasi Jakarta semakin masif. Pramono menargetkan penyelesaian rute LRT menuju Dukuh Atas pada tahun 2028. Selain itu, rencana pembangunan rute LRT menuju JIS dan Stasiun Kereta Cepat Halim juga tengah digarap agar dapat rampung dalam masa kepemimpinannya. Dengan perluasan moda transportasi ini, diharapkan pilihan masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum akan semakin luas dan beragam, demi Jakarta yang lebih lancar.


