Chapnews.id – Kabar mengenai fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) selalu menjadi perhatian utama masyarakat Indonesia, terutama bagi para pengguna kendaraan bermotor yang menggantungkan mobilitasnya pada pasokan energi. Memasuki pertengahan Oktober 2026, publik kini tengah menanti apakah akan ada perubahan signifikan pada harga BBM di seluruh SPBU Pertamina.
Berdasarkan pantauan terbaru pada Kamis (15/10/2026), harga bahan bakar minyak di jaringan SPBU Pertamina terpantau masih stabil. Hingga saat ini, harga yang berlaku masih mengacu pada ketetapan yang telah diumumkan sejak awal bulan, yakni pada 1 Oktober 2026. Salah satu jenis BBM nonsubsidi yang menjadi perhatian, Pertamax, tercatat masih berada di angka Rp15.950 per liter.

Kabar baik bagi masyarakat menengah ke bawah adalah harga BBM jenis subsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, diprediksi tidak akan mengalami lonjakan hingga penghujung tahun 2026. Kebijakan ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional serta melindungi daya beli masyarakat dari guncangan inflasi. Dengan tetap dijaganya harga subsidi, diharapkan beban pengeluaran rumah tangga dapat lebih terkendali.
Namun, untuk jenis BBM nonsubsidi, situasinya sedikit berbeda. Pertamina Patra Niaga selaku penyalur utama menyatakan bahwa penetapan harga untuk produk seperti Pertamax akan terus dipantau secara berkala. Perusahaan tidak hanya melihat angka teknis, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan kemampuan ekonomi masyarakat luas.
Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada perubahan harga untuk produk nonsubsidi. "Sampai saat ini, kami masih menerapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya," ungkapnya dalam keterangan resmi.
Di sisi lain, dinamika harga BBM nonsubsidi sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang sulit diprediksi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa harga produk nonsubsidi memang harus bersifat fleksibel mengikuti perkembangan pasar global. Faktor utama yang memengaruhi adalah tren harga minyak mentah dunia serta pergerakan Indonesian Crude Price (ICP).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menekankan pentingnya evaluasi rutin yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). Menurutnya, evaluasi bulanan terhadap harga BBM nonsubsidi adalah prosedur standar yang harus dijalankan untuk memastikan harga tetap kompetitif namun tetap memperhatikan aspek keekonomian.
"Untuk Pertamax, ini kan menyesuaikan dengan keekonomian. Jadi, seharusnya itu dari Dirjen Migas sudah menyampaikan evaluasi. Saya akan cek kembali proses evaluasinya untuk periode Oktober ini," ujar Yuliot saat ditemui di kantor Kementerian ESDM.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi guna menghindari simpang siur mengenai perubahan harga di lapangan. Stabilitas harga subsidi menjadi angin segar, sementara harga nonsubsidi akan terus bergerak mengikuti denyut ekonomi global.


