Chapnews.id – Kabar menggembirakan datang dari sektor energi nasional. Proyek strategis pengembangan gas alam cair (LNG) di Blok Masela, yang dikenal dengan nama Proyek Abadi, kini tengah memasuki fase krusial menuju target produksi perdana. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan proyek raksasa ini sudah mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2029 mendatang.
Proyek yang melibatkan investasi fantastis mencapai USD22 miliar atau setara dengan ratusan triliun rupiah ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru bagi ketahanan energi Indonesia. Dengan skala investasi sebesar itu, pengembangan Blok Masela diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang masif, baik dari sisi pendapatan negara maupun ketersediaan energi dalam negeri.

Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa pemerintah tengah memberikan dorongan penuh agar proyek ini segera masuk ke tahap pelaksanaan fisik. Langkah ini akan segera diambil setelah seluruh rangkaian pekerjaan Front-End Engineering Design (FEED) dinyatakan rampung sepenuhnya. Kabar baiknya, proses penyelesaian FEED ini berhasil diselesaikan lebih cepat dari jadwal yang telah ditetapkan sebelumnya.
"Produksi gas dari proyek Abadi ini direncanakan akan mulai beroperasi secepatnya. Jika target 2029 tercapai, itu sangat bagus. Namun, jika harus bergeser ke 2030 atau paling lambat tidak jauh dari akhir 2030, hal itu masih dalam batas yang dapat diterima," ujar Djoko dalam acara perayaan penyelesaian FEED di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Secara teknis, Proyek Abadi Masela dirancang untuk memiliki kapasitas produksi gas yang sangat besar, yakni mencapai 1.380 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Dari total volume gas tersebut, sebagian besar akan diproses menjadi LNG dengan kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton per tahun (MTPA).
Namun, manfaat proyek ini tidak hanya terbatas pada ekspor LNG saja. Proyek ini juga memiliki misi penting untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Sebanyak 100 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas akan dialokasikan sebagai gas pipa untuk kebutuhan industri dan pembangkit listrik di dalam negeri. Selain itu, proyek ini juga diprediksi akan menghasilkan kondensat sebanyak 35.000 barel per hari.
Kehadiran proyek Masela dinilai sangat strategis dalam memperkuat fondasi energi nasional. Dengan pasokan gas yang melimpah, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada energi impor dan memastikan kebutuhan industri manufaktur serta sektor kelistrikan tetap terjaga secara berkelanjutan. Keberhasilan penyelesaian tahap FEED yang lebih cepat tiga bulan dari target awal menjadi sinyal positif bahwa proyek ini memiliki manajemen dan koordinasi yang kuat untuk mencapai target produksi di tahun 2029.


