Chapnews.id – Pemerintah Indonesia tengah menyusun strategi besar untuk memperkuat posisi negara dalam peta keuangan global. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengungkapkan ambisi besar untuk menjadikan Indonesia, khususnya Bali, sebagai magnet baru bagi para pemilik kekayaan ekstrem di dunia melalui pengembangan skema family office.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan dari Singapura yang telah lebih dulu sukses menjadi pusat pengelolaan kekayaan dunia. Berdasarkan data yang ada, Singapura mampu menarik aliran dana masuk hingga mencapai angka fantastis sebesar USD30 miliar hanya dalam satu kuartal melalui mekanisme family office. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bagi Indonesia bahwa ada peluang ekonomi raksasa yang bisa diraih jika infrastruktur keuangan nasional dikelola dengan tepat.

Sebagai informasi, family office merupakan lembaga profesional yang didirikan khusus untuk mengelola aset, investasi, serta berbagai urusan keuangan kompleks milik keluarga super kaya (ultra-high-net-worth individuals). Kehadiran lembaga ini tidak hanya membawa dana segar, tetapi juga potensi transfer pengetahuan mengenai manajemen aset global ke dalam negeri.
Luhut menekankan bahwa Indonesia tidak ingin sekadar meniru, melainkan ingin menciptakan model yang paling efektif. Untuk mencapai hal tersebut, pemerintah telah melakukan kajian mendalam terhadap praktik terbaik di berbagai belahan dunia.
"Kami sudah mempelajari international best practice. Kami melihat bagaimana Singapura menjalankan sistemnya, bagaimana Abu Dhabi, Dubai, hingga Gujarat mengelola hal tersebut. Ada delapan negara yang menjadi objek studi kami untuk merumuskan skema yang paling pas bagi karakteristik Indonesia," ujar Luhut dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Lebih lanjut, Luhut memberikan catatan penting bahwa dalam menyusun regulasi ini, pemerintah tidak boleh bersikap egois. Fokus utama bukan hanya pada apa yang diinginkan oleh negara, melainkan bagaimana menciptakan ekosistem yang ramah dan menguntungkan bagi para investor global.
Menurutnya, kunci utama untuk menarik minat para konglomerat dunia adalah dengan memberikan kepastian hukum dan kemudahan dalam pengelolaan aset mereka. Jika regulasi yang dibuat terlalu kaku atau hanya menguntungkan satu pihak, maka investor dipastikan akan mencari negara lain yang lebih fleksibel.
"Niat kami adalah menarik mereka, jadi tidak bisa hanya mengikuti kemauan kita sendiri. Jika kita tidak mampu mengakomodasi kebutuhan dan keinginan para investor tersebut, mereka tidak akan datang ke Indonesia," tegas Luhut.
Melalui pemilihan Bali sebagai salah satu titik fokus, pemerintah berharap kombinasi antara keindahan destinasi wisata kelas dunia dengan fasilitas keuangan yang mumpuni dapat menciptakan daya tarik yang tak tertandingi. Jika rencana ini berjalan mulus, Indonesia berpotensi besar menjadi pemain kunci dalam industri manajemen kekayaan global di masa depan. Melansir laporan dari chapnews.id, langkah ini diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional melalui investasi jangka panjang.


