Chapnews.id – Upaya pemulihan wilayah yang terdampak bencana banjir di Provinsi Aceh kini tengah memasuki fase krusial. Fokus utama saat ini tertuju pada 16 desa yang tersebar di dua wilayah penting, yakni Kabupaten Pidie dan Kabupaten Bireuen. Langkah ini diambil guna memastikan kehidupan masyarakat kembali normal setelah sempat lumpuh akibat bencana yang melanda pada November 2025 lalu.
Proses rehabilitasi dan rekonstruksi ini melibatkan kolaborasi strategis antara pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan PT Brantas Abipraya (Persero). Berdasarkan data terbaru, cakupan wilayah penanganan mencakup 11 desa di Kabupaten Pidie dan 5 desa di Kabupaten Bireuen. Fokus pekerjaan tidak hanya terbatas pada perbaikan fisik, tetapi juga mencakup pembersihan material sisa banjir yang masih mengendap di pemukiman warga.

Selain pembersihan lingkungan, prioritas utama dalam proyek ini adalah pembukaan kembali akses jalan dan lingkungan yang sempat terputus. Selain itu, normalisasi saluran drainase menjadi agenda penting untuk mencegah terjadinya genangan air serupa di masa mendatang. Pemulihan fasilitas umum juga terus dikebut agar aktivitas sosial dan ekonomi warga dapat segera kembali berjalan dengan lancar.
Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana, menegaskan bahwa misi utama dari proyek pemulihan ini melampaui sekadar perbaikan beton dan infrastruktur. Menurutnya, aspek psikologis dan sosial masyarakat menjadi perhatian utama dalam proses pemulihan pascabencana ini.
"Pemulihan pascabencana bukan sekadar mengembalikan kondisi infrastruktur seperti semula, tetapi juga bagaimana kita membantu masyarakat bangkit, kembali menjalankan aktivitas sehari-hari, dan menumbuhkan optimisme untuk menata kehidupan ke depan. Melalui sinergi bersama Kementerian PU, kami berupaya memastikan setiap langkah penanganan memberikan dampak nyata bagi masyarakat terdampak," ungkap Dian dalam keterangannya.
Pekerjaan infrastruktur yang dilakukan secara masif ini diharapkan mampu memperlancar mobilitas warga dan mendukung kembali roda ekonomi lokal yang sempat terhenti. Dengan drainase yang berfungsi normal dan akses jalan yang bersih, risiko gangguan aktivitas akibat genangan air dapat diminimalisir secara signifikan.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga menekankan pentingnya semangat gotong royong. Keterlibatan aktif masyarakat setempat menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan yang telah diperbaiki. Sinergi antara pemerintah, pihak pelaksana proyek, dan warga diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan kawasan agar Aceh dapat kembali pulih sepenuhnya dari dampak bencana.

