Chapnews – Nasional – Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan mengalami dua kali erupsi pada Rabu (3/3). Semburan abu vulkanik mencapai ketinggian fantastis hingga 1.500 meter di atas puncak, memicu kewaspadaan di kalangan warga sekitar.
Erupsi pertama tercatat pada pukul 09.42 WITA, dengan kolom abu setinggi 1.000 meter di atas puncak, atau sekitar 2.584 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu pekat ini teramati condong ke arah utara dan timur laut. Catatan seismogram menunjukkan amplitudo maksimum 14.8 milimeter dengan durasi sekitar 50 detik, mengindikasikan kekuatan letusan.

Berselang beberapa jam, erupsi kedua terjadi pada pukul 13.55 WITA. Kali ini, material vulkanik menyembur lebih tinggi, mencapai 1.500 meter di atas puncak. Kolom abu yang juga berwarna kelabu pekat terlihat bergerak ke arah utara dan barat laut. Amplitudo maksimum pada erupsi kedua ini terekam 7.4 milimeter dengan durasi sekitar 49 detik.
Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Lewotobi Laki-laki, Herman Yosef Mboro, membenarkan kejadian ini melalui laporan tertulis yang diterima chapnews.id. "Telah terjadi erupsi G. Lewotobi Laki-laki, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 03 Maret [mengacu pada hari ini] pukul 09.42 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 m di atas puncak (± 2.584 m di atas permukaan laut)," ujarnya.
Gunung Lewotobi Laki-laki, yang memiliki ketinggian 1.584 meter di atas permukaan laut dan terletak di Desa Nurabelen, Kecamatan Ilebura, saat ini berada pada status Waspada (Level II). Status ini menandakan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang memerlukan pemantauan ketat.
Menyikapi peningkatan aktivitas ini, PPGA Lewotobi Laki-laki mengeluarkan rekomendasi penting. Masyarakat dan pengunjung dilarang keras melakukan aktivitas apapun dalam radius 4 kilometer dari pusat erupsi. Zona bahaya ini ditetapkan untuk memastikan keselamatan warga dari potensi lontaran material vulkanik.
Selain itu, warga di sekitar lereng gunung juga diminta untuk mewaspadai potensi banjir lahar hujan, terutama jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Sungai-sungai yang berhulu di puncak gunung, seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote, menjadi area yang perlu diwaspadai karena berpotensi dialiri lahar dingin.
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu, penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut sangat dianjurkan untuk mencegah gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik. PPGA terus memantau aktivitas gunung demi keselamatan warga dan akan segera memberikan informasi terbaru jika ada perubahan status atau aktivitas signifikan.



