Chapnews – Ekonomi – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengungkapkan keyakinannya terhadap rencana Initial Public Offering (IPO) Bank DKI pada tahun 2026. Pernyataan tersebut disampaikan saat menyaksikan penandatanganan perjanjian penyertaan modal dan perjanjian pemegang saham untuk pembentukan Kelompok Usaha Bank (KUB) antara Bank DKI dan Bank Maluku Malut di Balai Kota Jakarta.
Penandatanganan dilakukan Direktur Utama Bank DKI, Agus Haryoto Widodo, dan Direktur Utama Bank Maluku Malut, Syahrisal Imbar. Perjanjian Pemegang Saham ditandatangani oleh Agus Haryoto Widodo dan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, disaksikan langsung oleh Pramono Anung dan Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda.

Pramono menyambut positif kolaborasi perbankan ini, menganggapnya sebagai momentum tepat mengingat transformasi Bank DKI menuju lembaga keuangan yang lebih besar dan IPO. "Pembentukan KUB ini bagian dari strategi Bank DKI menuju IPO dan go public. Setelah go public, pengawasnya adalah publik. Saya sudah bicara dengan Dirut Bank DKI, paling lama setahun ke depan harus IPO. Saya yakin itu tercapai," tegas Pramono, Jumat (6/6/2026).
Kerja sama ini, menurut Pramono, bertujuan memperkuat kontribusi ekonomi kedua bank, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jakarta, Maluku, dan Maluku Utara. Ia berharap sinergi ini saling menguntungkan. "Inisiatif pembentukan KUB mencerminkan sinergi antardaerah untuk membangun ekosistem ekonomi inklusif, memperluas akses layanan keuangan, dan memperkuat kinerja Bank DKI dan Bank Maluku Malut," tambahnya.
Mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Presiden Jokowi ini berkomitmen mendorong Bank DKI untuk menjalin kerja sama dengan BUMD lain di Indonesia, serta bertransformasi menjadi institusi keuangan daerah yang modern dan berkelanjutan.



