Chapnews – Ekonomi – Industri perbankan nasional menunjukkan fundamental yang kokoh dengan likuiditas dan permodalan yang kuat, siap menopang pertumbuhan ekonomi. Namun, akselerasi penyaluran kredit di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dari sisi permintaan. Hal ini diungkapkan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, dalam acara Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Kamis (19/2).
Secara fundamental, Hery menegaskan, industri perbankan nasional memiliki kapasitas yang sangat memadai untuk menopang pertumbuhan kredit secara hati-hati dan berkelanjutan. Indikator likuiditas seperti pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat menguat hingga 11,4% secara tahunan (YoY), dengan rasio Loan-to-Deposit Ratio (LDR) yang tetap terjaga di kisaran 84% YoY. Sementara itu, permodalan industri juga sangat solid, ditunjukkan oleh Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 26%, jauh melampaui ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.

Meskipun demikian, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit secara tahunan hingga Desember 2025 masih tertahan di level satu digit. Hery menjelaskan, perlambatan ini utamanya dipengaruhi oleh faktor permintaan. Kondisi ini muncul seiring dengan kecenderungan dunia usaha untuk "wait and see" serta daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya di berbagai segmen.
Penurunan permintaan kredit baru ini terlihat di berbagai segmen. Kredit konsumsi, misalnya, anjlok drastis dari 62,9% menjadi hanya 13,4%. Begitu pula dengan segmen UMKM, yang permintaannya menurun dari 78,4% menjadi 58,8%. Fenomena menarik lainnya adalah peningkatan rata-rata undisbursed loan menjadi 10,22%. Ini berarti fasilitas kredit yang telah disetujui bank tidak segera ditarik oleh nasabah.
Hery menggarisbawahi, ketersediaan fasilitas kredit dan likuiditas perbankan sebenarnya sangat memadai. Namun, realisasi penarikan dana tersebut tertahan, mencerminkan sikap kehati-hatian dari dunia usaha dan rumah tangga. "Tantangannya bukan pada pasokan dana, melainkan pada kepercayaan dan prospek usaha ke depan," tegas Hery. Ia menambahkan, "Yang dibutuhkan bukan sekadar likuiditas tambahan, tetapi penguatan keyakinan pelaku usaha agar ekspansi kembali berjalan."
Acara Economic Outlook 2026 ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, serta Chief Executive Officer Standard Chartered Donny Donosepoetro. Pandangan dari para pemangku kepentingan ini diharapkan dapat merumuskan strategi untuk mengembalikan optimisme dan mendorong akselerasi ekonomi nasional.


