Chapnews – Nasional – Wakil Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie kembali menegaskan pandangannya yang kuat: setiap individu yang menerima beasiswa dari negara memiliki ‘utang budi’ yang harus ditunaikan. Pernyataan ini mengemuka di tengah sorotan publik terhadap sebuah video viral yang diunggah oleh seorang alumni penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dengan narasi kontroversial: "cukup saya WNI, anak jangan".
Wamen Stella mengungkapkan bahwa ia pernah menjadi sasaran kritik pedas dari warganet ketika sebelumnya mengimbau bahwa dana beasiswa yang diterima adalah sebuah utang. "Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang," kata Stella, seperti dikutip chapnews.id, Minggu (22/2). Namun, ia tetap teguh pada pendiriannya. "Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi," tegas Stella.

Menurut Stella, penerima beasiswa seharusnya memandang kesempatan emas tersebut sebagai sebuah amanah besar, bukan semata-mata fasilitas yang bisa dinikmati tanpa pertanggungjawaban. Ia memperingatkan bahwa pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis di kalangan penerima beasiswa. "Penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban," ujarnya.
Stella menyoroti beberapa contoh inspiratif dari ilmuwan diaspora Indonesia yang telah memberikan sumbangsih nyata bagi kemajuan bangsa. Ia menyebut nama-nama seperti Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, dan Prof. Haryadi di Amerika Serikat. "Contoh-contoh baik ini perlu disorot… Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," harapnya, menekankan bahwa kontribusi tidak selalu harus dalam bentuk yang sama.
Kontroversi ini bermula dari sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @sasetyaningtyas. Dalam video tersebut, seorang perempuan memperlihatkan momen haru saat membuka paket yang berisi surat pernyataan dari Home Office Inggris, mengonfirmasi status kewarganegaraan Inggris anak keduanya, lengkap dengan paspor Inggris yang menyertainya. "I know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu," ucapnya dalam video tersebut, yang sontak memicu beragam reaksi di media sosial.
Buntut dari pernyataan yang memicu gelombang kritik tersebut, penerima beasiswa LPDP berinisial DS itu akhirnya menyampaikan permohonan maaf. Melalui unggahan klarifikasi pada Jumat (20/2), ia mengakui bahwa pernyataannya keliru dan tidak tepat. "Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia. Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik," jelasnya, berharap permintaan maafnya dapat diterima.



