Chapnews – Ekonomi – Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi, angkat bicara menepis kekhawatiran publik terkait ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (8/3/2026), Kholid menegaskan bahwa pasokan BBM di seluruh penjuru Tanah Air saat ini dalam kondisi sangat aman dan mencukupi, jauh dari isu kelangkaan. Pernyataan ini sekaligus menjadi imbauan agar masyarakat tidak panik atau terprovokasi untuk melakukan penimbunan, yang justru dapat memicu ketidakstabilan ekonomi.
Kholid menjelaskan, angka cadangan BBM yang sering disebut-sebut mencapai ‘sekitar 20 hari’ bukanlah indikator batas waktu habisnya pasokan. Melainkan, angka tersebut merujuk pada cadangan operasional yang secara dinamis dikelola oleh badan usaha penyalur, seperti Pertamina. Ia menekankan bahwa sistem cadangan ini bersifat sirkuler atau berputar. Artinya, begitu stok digunakan atau keluar dari sistem distribusi, akan segera digantikan atau diisi kembali dengan pasokan baru dari berbagai sumber, termasuk jalur impor. "Untuk itu, masyarakat diminta tenang, tidak panik dan tidak melakukan penimbunan karena justru berdampak buruk terhadap ekonomi," tegasnya.

Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, Kholid memaparkan adanya tiga jenis cadangan energi di Indonesia. Pertama adalah cadangan strategis, yang berfungsi sebagai jaring pengaman jangka panjang. Kedua, cadangan penyangga energi (CPE), yang merupakan mandat pemerintah dan harus disediakan sesuai kemampuan keuangan negara, sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 96 Tahun 2024. Dan ketiga, cadangan operasional, yang menjadi tanggung jawab badan usaha seperti Pertamina, dengan karakteristik sirkuler yang telah dijelaskan sebelumnya.
Menjelang perayaan Idulfitri, salah satu momen puncak peningkatan konsumsi BBM, Kholid memastikan bahwa pasokan telah diperhitungkan dengan matang. Ia mengungkapkan, cadangan Pertalite saat ini bahkan mencapai 28 hari, Pertamax 29 hari, dan Avtur juga dalam kondisi yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan penerbangan. Ini membuktikan kesiapan Pertamina dan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan.
"Jadi saya mengimbau kepada masyarakat tidak perlu panik. Yang disebut sekitar 20 hari itu stok sirkuler. Jadi keluar masuk. Begitu ada barang keluar, ada barang yang masuk," pungkas Kholid, menegaskan kembali bahwa tidak ada alasan untuk khawatir berlebihan terhadap ketersediaan BBM di Tanah Air.



