Ads - After Header

Gawat! Rupiah Anjlok ke Rp16.958/USD, Ini Biang Keroknya!

Ahmad Dewatara

Chapnews – Ekonomi – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (13/3/2026), berakhir di level Rp16.958 per dolar AS. Pelemahan sebesar 65 poin atau sekitar 0,38 persen ini memicu kekhawatiran di tengah sentimen global yang memanas, terutama terkait harga minyak dan kebijakan moneter.

Menurut pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, salah satu pendorong utama pelemahan mata uang Garuda ini adalah situasi geopolitik di Timur Tengah. Pemimpin baru Iran, Mojtaba Khamenei, secara tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup. Selat ini merupakan jalur air sempit yang sangat krusial, dilewati oleh seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.

Gawat! Rupiah Anjlok ke Rp16.958/USD, Ini Biang Keroknya!
Gambar Istimewa : img.okezone.com

"Para pelaku pasar dan analis sangat khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi," ujar Ibrahim dalam risetnya yang dikutip chapnews.id. Ia menambahkan bahwa harga minyak mentah Brent berjangka, yang menjadi patokan global, terakhir kali berada di sekitar USD100 per barel. Kenaikan inflasi ini dapat memaksa bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS, untuk mempertimbangkan kembali rencana pemotongan suku bunga jangka pendek. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung menarik investasi asing, yang pada gilirannya dapat memperkuat daya tarik dolar AS.

Selain konflik di Iran, investor juga terus memantau data inflasi Amerika Serikat yang dirilis minggu ini. Data indeks harga konsumen (CPI) pada hari Rabu menunjukkan inflasi sebagian besar tetap stabil pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dampak lonjakan inflasi yang mungkin timbul akibat kenaikan harga minyak, terutama setelah kampanye AS-Israel di Iran.

Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) untuk bulan Januari, yang akan dirilis akhir pekan ini, diharapkan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai tren inflasi AS. Angka PCE ini sangat penting karena merupakan ukuran inflasi pilihan The Fed dan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan ekspektasi suku bunga jangka panjang. Ketidakpastian seputar data ini menambah tekanan pada pergerakan rupiah di pasar global.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer