Chapnews – Nasional – Gelombang protes keras terhadap keanggotaan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) pecah secara serentak di Surabaya dan Makassar pada Jumat lalu. Ratusan massa dari Komite Umat Islam Anti Amerika-Israel (Kumail) di Surabaya dan Poros Al Quds Makassar mendesak pemerintah Republik Indonesia untuk segera menarik diri dari organisasi tersebut, menudingnya sebagai alat legitimasi kepentingan asing dan bertentangan dengan konstitusi negara.
Di Surabaya, aksi dramatis digelar oleh Kumail di depan Gedung Negara Grahadi. Massa yang mengenakan pakaian serba hitam memadati kawasan Taman Apsari, mengibarkan bendera Merah Putih, Palestina, dan Iran sebagai simbol solidaritas. Dalam orasinya, mereka menuding Amerika Serikat (AS) sebagai dalang utama di balik eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk genosida yang terjadi di Palestina. "Kami tegaskan, Amerika Serikat adalah penyokong utama di balik setiap tetes darah yang tumpah di Palestina, Iran, Lebanon, dan Yaman," teriak salah satu orator dari atas mobil komando, seperti dilansir chapnews.id.

Aksi di Surabaya semakin memanas dengan teatrikal yang menggambarkan sosok Presiden AS Donald Trump bersanding dengan patung iblis baal. Di hadapan mereka, ditampilkan simulasi penyiksaan terhadap anak-anak yang tangannya dirantai, serta boneka jenazah bayi bersimbah darah yang bergelimpangan. Puncak protes ditandai dengan pembakaran patung iblis baal di tengah kerumunan, diiringi pekik kemerdekaan Palestina.
Mu’adz, Humas Aksi Kumail, menegaskan bahwa demonstrasi ini merupakan bentuk protes keras atas serangan AS-Israel terhadap Iran dan Palestina. Ia menilai BOP hanyalah alat politik untuk melegitimasi tindakan Israel di tanah Palestina. "Itu sudah terbukti di beberapa negara. Kita mendesak pemerintah Indonesia untuk keluar, bukan hanya meninjau ulang, tapi keluar dari keanggotaan BOP," tegas Mu’adz. Ia juga mengkritik sikap pemerintah yang dinilai "setengah hati" dan "gamang" dalam menentukan sikap, menengarai adanya faktor ekonomi, khususnya kekhawatiran terhadap tarif dagang 19 persen, yang membuat posisi Indonesia dilematis.
Sementara itu, di Makassar, aksi serupa diikuti oleh ratusan orang yang tergabung dalam Poros Al Quds Makassar. Dimulai sekitar pukul 15.00 WITA dengan titik kumpul di Masjid Aisyah, massa kemudian melakukan konvoi dan long march menuju Monumen Mandala di Jalan Jenderal Sudirman sebagai lokasi utama penyampaian aspirasi. Mereka mengibarkan bendera Merah Putih, Palestina, dan Iran, serta membentangkan berbagai baliho dan pamflet dengan pesan-pesan seperti "International Al Quds, Solidaritas untuk Palestina", "Tolak Normalisasi dengan Israel", dan "Stop BOP Diplomacy".
Koordinator lapangan aksi di Makassar, Andi Mudassir, dalam orasinya menegaskan dukungan penuh terhadap perjuangan rakyat Palestina. Ia mendesak pemerintah Indonesia untuk segera keluar dari BOP, yang dinilai bertentangan dengan amanat konstitusi dan berpotensi menyeret Indonesia ke dalam orbit kepentingan geopolitik kekuatan imperialis. Aksi serentak ini menjadi penanda kuat desakan masyarakat agar pemerintah Indonesia mengambil sikap tegas dan konsisten dalam mendukung kemerdekaan Palestina serta menolak keterlibatan dalam organisasi yang dianggap merugikan kedaulatan dan prinsip politik luar negeri bebas aktif.


