Ads - After Header

Gelembung Raksasa di CFD: Aksi Protes Udara Jakarta yang Tak Sehat!

Ahmad Dewatara

Gelembung Raksasa di CFD: Aksi Protes Udara Jakarta yang Tak Sehat!

Chapnews – Nasional – Aksi unjuk rasa unik menarik perhatian warga Jakarta di Car Free Day (CFD) Bundaran HI, Minggu (1/6). Sebuah gelembung raksasa transparan menjadi simbol protes terhadap buruknya kualitas udara Ibu Kota. Di dalam gelembung tersebut, seorang perempuan berpakaian formal terlihat tanpa masker, berbeda dengan para aktivis di luar yang mengenakan masker hitam dan membawa poster berisi pesan menohok. "Kok gelap? Itu mendung atau karna asap?" tulis salah satu poster, menunjukkan keprihatinan atas polusi udara yang semakin parah. Poster lain menuliskan, "Polusi udara turunkan kemampuan belajar siswa," mengungkap dampak buruk polusi terhadap kesehatan, khususnya anak-anak.

Irfan Toni dari 350.org, salah satu organisasi yang terlibat dalam aksi ini, mengatakan bahwa pemerintah harus lebih serius menangani polusi udara. Ia menyoroti pentingnya penggunaan energi terbarukan, seraya menyayangkan sikap "hidup di dalam gelembung sendiri" dari para pemangku kepentingan yang dinilai masih enggan menerapkan solusi-solusi tersebut. Aksi simbolis ini, menurut Irfan, bertujuan untuk menyampaikan pesan bahwa udara bersih merupakan hak setiap warga Indonesia.

Gelembung Raksasa di CFD: Aksi Protes Udara Jakarta yang Tak Sehat!
Gambar Istimewa : akcdn.detik.net.id

Aksi yang melibatkan Koalisi Pejalan Kaki, Clean Mobility Collective Southeast Asia (CMCSEA), 350 Pilipinas, Yayasan Udara Anak Bangsa (Bicara Udara), Forum Diskusi Transportasi Jakarta, Komite Penghapusan Bensin Bertimbel dan Car Free Day Indonesia ini berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB. Berdasarkan data IQAir pukul 09.56 WIB, kualitas udara tercatat sedang (AQI 84). Namun, pada pukul 14.50 WIB, kualitas udara Jakarta telah memburuk menjadi tidak sehat bagi kelompok sensitif (AQI 102).

Dalam siaran persnya, kelompok aktivis ini menekankan pentingnya kesadaran masyarakat dan mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan nyata. Mereka juga menyebut perbaikan kualitas udara pada April 2025 bukan karena kebijakan pemerintah, melainkan faktor alam seperti peningkatan curah hujan akibat La Nina. Angka tersebut pun masih jauh di atas standar WHO. Dampaknya, terutama pada anak-anak dan remaja, adalah gangguan pernapasan.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menyatakan akan meniru strategi kota-kota besar seperti Paris dan Bangkok dalam mengatasi polusi udara, termasuk menambah sensor pemantauan kualitas udara dan meningkatkan keterbukaan data. Namun, Guru Besar Teknik Lingkungan ITB, Puji Lestari, mengungkap bahwa polusi udara Jakarta sebagian besar berasal dari aktivitas industri di Jabodetabek, terutama emisi dari industri dan kendaraan.

Also Read

Bagikan:

Ahmad Dewatara

Ahmad Dewatara

kontributor di ChapNews yang berfokus pada liputan dan analisis Olahraga. Ia secara rutin menyajikan berita terkini, ulasan pertandingan, dan spekulasi transfer di dunia sepak bola global maupun nasional, memberikan pandangan yang tajam bagi para penggemar olahraga.

Tags

Tinggalkan komentar

Ads - Before Footer